“Itu tidak akan terjadi kalau dari Flores Timur (Flotim) sampai Manggarai Barat orang masih pake transportasi darat. Itu kelamaan,” ujarnya.
Namun, kata dia, pemerintah daerah tidak pernah memikirkan untuk membangun sebuah mapping guna membangun kapal cepat dari Flotim ke Labuan Bajo.
Terkait Investasi yang besar-besaran di Labuan Bajo, Ferdy menegaskan soal adanya paradoks pembangunan. Pasalnya, data BPS Mabar tahun 2020 mencatat angka kemiskinan sangat tinggi, lalu pendapatan perkapita masyarakat 416.000 per bulan.
“Gubernur NTT yang sekarang nggak sukses untuk mereduksi angka kemiskinan, karena Gubernur sebelumnya juga angka kemiskinannya sekitar 19-21 persen,” ujarnya.
Dia menyebut, dari 160-an desa yang ada di Kabupaten Manggarai Barat, hanya satu yang diaktegorikan sebagai desa maju. “Coba bayangkan kabupaten super premium dengan indikator-indikator mikro seperti
itu bagaimana jadinya,” tuturnya.
Dia menambahkan, untuk tingkat pendidikan di Kabuoaten Manggarai Barat masih terbelakang. “Angka buta huruf di Manggarai Barat 17 persen tidak sekolah, angka tamatan SD 41 persen, tamatan SMP 21 persen dan angka lulus SMA sampai doktoral hanya 27 persen,” pungkasnya.





Tinggalkan Balasan