Sementara Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Iriawan Atmaja mengatakan, hapir 65% kredit masyarakat NTT dialokasikan ke sektor konsumsi.

“Ini perlu dipahami bersama bahwa kalau mau ke tujuan pertumbuhan ekonomi, kredit-kredit perlu diarahkan ke sektor-sektor produktif. Kami berharap dengan TPAKD, akan terjadi realokasi kredit ke sektor-sektor produktif,” kata I Nyoman Iriawan Atmaja.

Ia menjelaskan, di NTT ada banyak komoditi unggulan seperti rumput laut, sapi, garam, mente, kopi dan beberapa komoditi unggulan lainnya. Jika kredit-kredit diarahkan ke sektor produksi komoditi unggulan, tentu akan berdampak pada sektor lain, sehingga ekonomi NTT bisa meningkat.

“Tetapi catatannya adalah bagaimana persiapan dari sektor itu dan juga pembinaan maupun pendampingan dari lembaga teknis pemerintah daerah. Ini beberapa hal yang menjadi pendorong untuk pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

I Nyoman Iriawan Atmaja berharap dengan adanya lembaga TPAKD, kendala-kendala teknis masyarakat dalam mengakses permodalan, bisa diselesaikan secara cepat dan tepat.