Barangkali, kesimpulan yang paling cocok untuk menerangkan kekerasan masif di atas adalah pernyataan Aristophanes, seorang dramawan Yunani klasik yang pada suatu ketika ditanyai oleh seorang pemuda, “apa pendapatmu kalau melhat dua gerombolan orang yang sedang saling menyerang penuh beringis?” Aristophanes menjawab: “mereka itu gerombolan orang bodoh. Kesamaan antara yang bodoh dan pintar adalah sama-sama memiliki otak. Tetapi bedanya, orang bodoh menggunakan otot untuk menyerang, orang pintar menggunakan otaknya untuk meredam persoalan. Orang bodoh tidak tahu bagaimana menjadi pintar. Sebab dia tidak pernah menjadi pintar dan bangga dengan kebodohannya. Sementara, orang pintar tahu bagaimana mnjadi orang bodoh karena dulu ia pernah bodoh dan kini sudah menjadi pintar.”

Orang yang tidak takut pada keburukan adalah sebuah kebodohan. Bisa saja, pernyataan Aristophanes di atas menegaskan hal ini: di hadapan kekerasan, sekalipun atas nama Tuhan dan agama, batas antara bodoh dan pintar dirobohkan oleh keliaran yang membabi buta.

Kesimpulan

Aksi bom bunuh diri adalah tindakan ‘ideot’ atas pelakunya. Sang penggerak dan pencetus suatu pahaam hanya untuk memenuhi nafsu angkaramurka atas pemahaman paham yang diterimannya. Otak dibalik peristiwa bom bunuh diri punya ambisi atas kekuasan sesuatu. Yang jikalau saja dia mendapatkan kesempatan untuk itu, maka cara-cara tak masuk akal dan cendrung mengedepankan akan menghasilkan kepemimpinannya. Sehingga tidak ada kepatuhan untuk mengikuti orang maupun ajarannya.***
 
Fredi Shebo, Moral Samaritan (Maumere: Penerbit Ledalero, 2018) hlm. 85.
Ibid., hlm. 86