Banalitas kejahatan ditandai dengan kegagalan seseorang untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Orang yang gagal berdialog dengan dirinya sendiri akan memahami kejahatan yang terjadi sebagai sebagai kejahatan dipicu oleh ketumpulan hati nurani dan kegagalan untuk berpikir kritis.

Lihat saja, aksi bom bunuh diri dengan motivasi utopis yaitu diiming-iming sebagai mati syaid dan langsung masuk surga, malah dipertegas lagi dengan janji syawat bahwa setelah mati konyol itu, pelaku langsung disambut para bidadari perawan. Barangkali ini merupakan sebuah kebodohan paling parah dan keseatan berpikir yang paling fatal.

Ketiga, akar sosiologis. Seseorang bisa melakukan kekerasan karena adanya tatanan masyarakat dan struktural yang tidak beres. Kesadaran di sini dilihat sebagai sebuah bentuk protes dan perlawanan. Orang dapat membuat perlawanan selain didorong oleh kehendak sendiri. Kebanyakan pembunuhan, kejahatan dan kekerasan sadistik lainnya tidak didasarkan pada rasa benci, tetapi juga karena desakan perintah sebuah otoritas.