Akar-akar kekerasan
Pertanyaan penting, mengapa manusia suka sekali melakukan kekerasan terhadap sesamanya, malah menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja? Pertanyaan ini selalu menyimpan keheranan. Keheranan adalah sebentuk perasaan yang muncul tiba-tiba takkala seseorang menghadapi sesuatu yang tidak lumrah. Untuk menjawabi pertanyaan ini, juga untuk meminilisasi keheranan atas pertanyaan tersebut, mari kita lihat akar-akar kekerasan dalam diri manusia yaitu akar epistemologis, antropologis, dan sosiologis.
Pertama, akar epistemologis. Akar ini bersentuhan langsung dengan kegagalan seseorang untuk mengenal orang lain sebagai sesama. Orang lain, secara diametral dianggap sedemikian rupa sebagai “gangguan”. Dengan kegagalan ini, orang lain sesungguhnya didehumenisasikan dan malah didepersonalisasikan sebagai objek yang seenaknya dilukai, sebagai lawan yang mesti dienyah-lenyapkan.
Kedua, akar antropologis. Akar ini berhubungan dengan kekeliruan persepsi. Tindakan melukai dan menghabiskan sesama bisa niscahaya terjadi selama pelaku melihat tindakan sadistiknya itu sebagai sesuatu yang bernilai, sebagai hal yang patut. Seseorang melakukan kekerasan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, jika tindakannya itu dianggap sebagai perealisasian terhadap sebuah nilai. Malah lebih radikal, membunuh, menghabiskan sesama atau tindakan kekerasan lainnya dianggap sebagai ‘kewajiban etis’. Kekerasan demikian berajah banal; di satu sisi, menjadi sesuatu yang sistematik ada di mana-mana, dilakukan oleh siapa saja, dan di sisi lain, orang tampaknya menjadi permisif terhadap kekerasan, menghalalkannya, tidak perihatin terhadapnya, dan menganggapnya sebagai hal biasa-biasa saja.
Banalitas kejahatan ditandai dengan kegagalan seseorang untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Orang yang gagal berdialog dengan dirinya sendiri akan memahami kejahatan yang terjadi sebagai sebagai kejahatan dipicu oleh ketumpulan hati nurani dan kegagalan untuk berpikir kritis.
Lihat saja, aksi bom bunuh diri dengan motivasi utopis yaitu diiming-iming sebagai mati syaid dan langsung masuk surga, malah dipertegas lagi dengan janji syawat bahwa setelah mati konyol itu, pelaku langsung disambut para bidadari perawan. Barangkali ini merupakan sebuah kebodohan paling parah dan keseatan berpikir yang paling fatal.







Tinggalkan Balasan