Pertama, akar epistemologis. Akar ini bersentuhan langsung dengan kegagalan seseorang untuk mengenal orang lain sebagai sesama. Orang lain, secara diametral dianggap sedemikian rupa sebagai “gangguan”. Dengan kegagalan ini, orang lain sesungguhnya didehumenisasikan dan malah didepersonalisasikan sebagai objek yang seenaknya dilukai, sebagai lawan yang mesti dienyah-lenyapkan.
Kedua, akar antropologis. Akar ini berhubungan dengan kekeliruan persepsi. Tindakan melukai dan menghabiskan sesama bisa niscahaya terjadi selama pelaku melihat tindakan sadistiknya itu sebagai sesuatu yang bernilai, sebagai hal yang patut. Seseorang melakukan kekerasan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, jika tindakannya itu dianggap sebagai perealisasian terhadap sebuah nilai. Malah lebih radikal, membunuh, menghabiskan sesama atau tindakan kekerasan lainnya dianggap sebagai ‘kewajiban etis’. Kekerasan demikian berajah banal; di satu sisi, menjadi sesuatu yang sistematik ada di mana-mana, dilakukan oleh siapa saja, dan di sisi lain, orang tampaknya menjadi permisif terhadap kekerasan, menghalalkannya, tidak perihatin terhadapnya, dan menganggapnya sebagai hal biasa-biasa saja.



Tinggalkan Balasan