Gubernur Melki menyebutkan bahwa, pada tahun 2025 NTT mengalami defisit sekitar Rp51 triliun, yang sebagian besar dipengaruhi oleh tingginya konsumsi barang dari luar daerah, termasuk kebutuhan makan dan minum.

“Tahun 2025 NTT defisit sekitar Rp51 triliun, mayoritas di belanja makan minum. Karena itu kita harus mulai produksi dan konsumsi produk sendiri,” jelasnya.

Melki juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang menjual bahan mentah tetapi membeli kembali produk olahannya.
“Kita jual pisang bertandan-tandan di pasar, tapi pulang beli pisang molen. Padahal kita bisa buat sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengembangan NTT Mart mendapat dukungan dari berbagai perbankan, baik bank Himbara maupun Bank NTT. Menurutnya, model NTT Mart berpotensi menjadi contoh nasional dalam pengembangan UMKM berbasis komunitas dan pendidikan.

“NTT bisa jadi pilot project. Model NTT Mart ini juga sedang menjadi pemikiran pengembangan UMKM di tingkat pusat,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambros Kodo, mengatakan kehadiran NTT Mart di sekolah bertujuan membangun ekosistem kewirausahaan bagi siswa.