Dukung Siswa SMK Berkarya, Gubernur NTT Beli Produk Meja Marmer Senilai Rp4,5 Juta

Gubernur NTT, Melki Laka Lena menyampaikan sambutan, saat meresmikan NTT Mart By OSOP, di SMK Negeri 2 Kupang, Rabu (11/3/2026). (Foto: Ama Beding)

Kupang, KN – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan, kualitas produk lokal karya anak-anak NTT mampu bersaing dengan produk-produk modern.

Ia mencontohkan, produk meja marmer yang produksi siswa SMK Negeri 5 Kupang, yang dibeli dengan harga Rp4,5 juta. Gubernur menyebut, meja marmer itu, punya kualitas baik dan layak dijual dengan harga Rp4,5 juta.

“Saya beli meja marmer dari SMKN 5 seharga Rp4,5 juta karena barangnya bagus. Kalau saya suruh orang hotel beli pun tetap masuk kelas,” ujar Melki, saat meresmikan NTT Mart By OSOP, di SMK Negeri 2 Kupang, Rabu (11/3/2026).

Dalam kesempatan itu, Melki menegaskan bahwa produk yang dipajang di NTT Mart harus didominasi oleh hasil karya sekolah, bukan barang dari luar.

“Jangan yang dipajang di NTT Mart ini produk dari luar sekolah. Harus perbanyak produk dari sekolah sendiri,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa konsep NTT Mart juga terbuka untuk dikembangkan oleh berbagai komunitas di daerah.

Menurutnya, konsep tersebut diharapkan dapat berkembang luas dan menjadi pusat pemasaran produk lokal masyarakat.

“Sekarang komunitas mana yang mau bikin NTT Mart silakan. Karena NTT Mart ini harus bisa menjamur di mana saja,” jelas Melki.

Melki juga menanggapi kritik yang membandingkan NTT Mart dengan jaringan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret.

Ia menilai, perbandingan tersebut tidak tepat karena kedua ritel nasional itu telah berkembang melalui proses panjang serta memiliki jaringan distribusi yang kuat.

“Memang tidak sama, karena mereka sudah melewati proses yang panjang. Kita ini baru start. Jadi tidak sama,” katanya.

Meski demikian, ia tetap membuka ruang kritik agar pengembangan NTT Mart dapat terus disempurnakan. “NTT Mart ini bisa dikritik. Kita membuka diri, silakan kritik. Yang penting kita sudah mulai dengan niat baik untuk membantu masyarakat berproduksi,” ungkapnya.

Melki menjelaskan, NTT Mart terhubung dengan konsep One School One Product (OSOP) dan One Community One Product (OCOP) yang bertujuan memastikan produk masyarakat memiliki pasar.

BACA JUGA:  Komitmen Bank NTT Jadi 'Bapak Asuh' dan Buat e-Katalog untuk Pemasaran Produk UMKM

Ia juga mengajak masyarakat NTT untuk lebih banyak mengonsumsi produk lokal guna mengurangi ketergantungan terhadap barang dari luar daerah.

Gubernur Melki menyebutkan bahwa, pada tahun 2025 NTT mengalami defisit sekitar Rp51 triliun, yang sebagian besar dipengaruhi oleh tingginya konsumsi barang dari luar daerah, termasuk kebutuhan makan dan minum.

“Tahun 2025 NTT defisit sekitar Rp51 triliun, mayoritas di belanja makan minum. Karena itu kita harus mulai produksi dan konsumsi produk sendiri,” jelasnya.

Melki juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang menjual bahan mentah tetapi membeli kembali produk olahannya.
“Kita jual pisang bertandan-tandan di pasar, tapi pulang beli pisang molen. Padahal kita bisa buat sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengembangan NTT Mart mendapat dukungan dari berbagai perbankan, baik bank Himbara maupun Bank NTT. Menurutnya, model NTT Mart berpotensi menjadi contoh nasional dalam pengembangan UMKM berbasis komunitas dan pendidikan.

“NTT bisa jadi pilot project. Model NTT Mart ini juga sedang menjadi pemikiran pengembangan UMKM di tingkat pusat,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambros Kodo, mengatakan kehadiran NTT Mart di sekolah bertujuan membangun ekosistem kewirausahaan bagi siswa.

Menurutnya, selama ini banyak produk kreatif siswa hanya berhenti di ruang praktik tanpa memiliki akses pasar.

“Sekolah tidak hanya mengurus kecerdasan akademik, tetapi juga menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa,” kata Ambros.

Ia menjelaskan bahwa NTT Mart akan menjadi pusat pemasaran produk kreatif siswa sekaligus laboratorium bisnis. Di tempat ini siswa dapat belajar manajemen ritel, pemasaran digital, hingga pelayanan pelanggan.

“Lulusan kita tidak hanya mencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja baru,” pungkasnya. (*)

IKUTI BERITA TERBARU KORANNTT.COM di GOOGLE NEWS