Sedangkan pasangan Simon Petrus Kamlasi-Andre Garu mengungkapkan rasa prihatin terhadap kondisi kemiskinan yang dialami masyarakat NTT. Kondisi kemiskinan inilah yang mendorong SPK rela melepaskan jabatan bintang 3 di TNI AD hanya untuk menciptakan bintang-bintang lainnya yakni kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat NTT. Paket (SIAGA) ini juga berjanji jika menang dalam Pilgub NTT, pihaknya akan mendesain infrastruktur di bumi NTT ini yang berbasis teknologi.
Nah, seiring berjalannya waktu di masa kampanye ini, rakyat di daerah ini telah mendengar (meski ada juga yang tidak terlalu mengerti dan tidak mau ambil pusing) dengan janji-janji ‘manis” alias berbagai program yang telah ditawarkan oleh masing-masing pasangan itu. Lalu muncul pertanyaan sederhana, apakah dengan model atau format kampanye maupun isi kampanye yang disuara-lantangakan masing-masing pasangan Cagub dan Cawagub itu (akan) mampu mempengaruhi pilihan politik rakyat yang ada di daerah ini ? Ataukan rakyat telah memiliki “jago”nya sendiri sehingga masa kampanye selama kurang lebih 60 hari itu hanya dianggap sebagai sesuatu yang rutin dan formal karena telah terjadwal oleh KPU ?



Tinggalkan Balasan