Nah, seiring berjalannya waktu di masa kampanye ini, rakyat di daerah ini telah mendengar (meski ada juga yang tidak terlalu mengerti dan tidak mau ambil pusing) dengan janji-janji ‘manis” alias berbagai program yang telah ditawarkan oleh masing-masing pasangan itu. Lalu muncul pertanyaan sederhana, apakah dengan model atau format kampanye maupun isi kampanye yang disuara-lantangakan masing-masing pasangan Cagub dan Cawagub itu (akan) mampu mempengaruhi pilihan politik rakyat yang ada di daerah ini ? Ataukan rakyat telah memiliki “jago”nya sendiri sehingga masa kampanye selama kurang lebih 60 hari itu hanya dianggap sebagai sesuatu yang rutin dan formal karena telah terjadwal oleh KPU ?

Hanya rakyat NTT yang tahu jawabannya !
Perlu diingat bahwa rakyat di daerah ini telah memiliki dan mampu menerapkan sikap demokrasi yang baik. Rakyat memiliki kebanggaan (proud) dengan suaranya yang memberi nilai terhadap proses pelaksanaan Pilkada di NTT yang dieksekusi pada 27 November 2024 yang akan datang. Rakyat sangat bangga dengan suaranya, walaupun nantinya (masih) ada money politics tetapi rakyat tidak mau pusing dengan urusan itu. Suaranya yang akan diberikan kepada masing-masing pasangan Cagub dan Cawagub NTT sesuai dengan hati nuraninya tentu akan memberikan ‘harga” tersendiri bagi proses demokrasi di ini daerah.

Makna politiknya adalah meski tim sukses atau figur Cagub dan Cawagub NTT itu sendiri telah bekerja sekuat tenaga untuk meyakinkan rakyat atau konstituennya agar bisa dipilih pada hari pencoblosan nanti, tetapi harus diingat bahwa rakyat di daerah ini sudah cerdas untuk memilih pemimpin yang hanya bisa menjual janji atau pemimpin yang benar-benar telah menunjukan kinerjanya untuk menjawab apa yang menjadi kebutuhan pokok dari rakyat itu sendiri.

Karena itu, pernahkah para pemimpin di NTT memandang berbagai persoalan yang ada sekarang ini dengan memakai kacamata rakyat NTT ? Ataukah hanya memakai kacamatanya sendiri yang diklaimnya sebagai kacamata rakyat ? Memang harus diakui bahwa ada begitu banyak persoalan yang dihadapi rakyat di daerah ini. Tetapi yang menjadi pokok persoalan yang dihadapi masyarakat kita sekarang ini meliputi kemiskinan, pengangguran, buta huruf dan sejumlah masalah ekonomi lainnya. Hari ini kita menyaksikan potret sekilas; ada begitu banyak masyarakat yang antri untuk mendapatkan “jatah” minyak tanah; pun harga-harga sembilan bahan pokok (sembako) khususnya beras yang semakin sulit dijangkau oleh masyarakat ekonomi lemah-lembut, dan lain sebainya.