Hery Purnobasuki (Guru Besar FST Universitas Airlangga/Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga)

Pulau-pulau Nusa Tenggara Timur (NTT) kerap menghadirkan kagum yang sunyi: pasir yang halus seperti tepung, bukit berwarna pelangi, savana yang berbisik, serta budaya yang memancarkan ritme hidup berbeda dari pusat-pusat kota besar. Selama bertahun-tahun, pesona itu menjadi magnet bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Kini, di hadapan kita terbentang peluang baru era digital membuka jalur langsung untuk meraup dolar, bukan sekadar rupiah, asalkan strategi yang diambil dapat menyeimbangkan keuntungan ekonomi dan kelestarian lokal.

Pertama-tama, mari kita akui satu fakta sederhana: digitalisasi menghapus jarak. Foto matahari terbenam di Kelingking, tarian tradisional di Sumba, atau ritual adat di Flores bisa tersebar ke seluruh dunia dalam hitungan jam. Platform-platform visual seperti Instagram, short-form video, dan marketplace perjalanan telah menjadi etalase global. Bagi NTT, itu adalah keuntungan besar. Ketika konten diproduksi dengan cerdas menceritakan bukan hanya keindahan visual tetapi juga konteks budaya dunia akan datang, dan membawa mata uang asing.

Namun potensinya bukan cuma soal visual. Produk-produk pariwisata NTT dapat ditransformasikan menjadi unit ekonomi digital: paket wisata berstandar internasional yang dapat dipesan online, homestay yang muncul di platform global dengan ulasan berkualitas, pengalaman budaya berbayar yang dikurasi (misalnya kelas menenun ikat, tur antarpulau berkelanjutan), hingga produk lokal bernilai tambah seperti kain tenun, kopi flores, atau rempah yang dipasarkan lewat e-commerce lintas batas. Ketika semua itu tersambung oleh strategi digital yang cermat fotografi profesional, deskripsi yang kuat, pembayaran internasional yang mudah, dan pengiriman barang ke luar negeri menjadikan dolar bukan lagi angan, melainkan target yang realistis.

Walau begitu, ada bahaya mengintai jika digitalisasi hanya dilihat sebagai mesin penghasil dolar. Ketergantungan pada tren viral dapat memberikan dampak singkat yang spektakuler namun rapuh. Destinasi yang tiba-tiba viral bisa mengalami overcrowding, degradasi lingkungan, dan ketidakharmonisan sosial yang merusak daya tarik jangka panjang. Inilah titik krusial: NTT harus membangun ekosistem pariwisata digital yang berkelanjutan bukan hanya dalam arti lingkungan, tetapi juga ekonomi dan kultural.