Jika garis batas kemiskinan terus menerus dinaikkan oleh negara-negara maju maka bukan tidak mugkin, kita tetap akan berada pada posisi sebagai daerah dengan status kemiskinan ekstrim.

“Nah untuk menyelesaikan ini bukan dengan pergi dan bantu mereka dengan beras, minyak goreng, odol gigi, sabun mandi, bukan begitu. Tetapi siapa yang punya kapasitas, kapabilitas, untuk menolong orang miskin, berpikir lebih luas, revolusioner, itu baru bisa memimpin di daerah ini. Membantu orang miskin jangan sampai seperti anda memasukkan mereka dalam kandang, lalu paronisasi. Dikasi bantuan. Memang dia gemuk, ada makanan, tapi tidak cukup demikian, dia akan menjadi pribadi gampangan, malas,” ungkap Ayub dengan nada serius.

Masyarakat NTT harus ditolong dengan cara melairkan pemimpin yang punya kapasitas dan kapabilitas untuk membantu mereka keluar dari kemiskinan itu. Agar orang-orang desa bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitar mereka untuk bisa memenuhi kebutuhannya.

“Jangan sampai dia menolong orang lain dengan cara santa claus. Datang bawa dan bagi-bagi hadiah. Kita harus berpikir labih jauh. Saya harap masyarakat agar berpikir secara baik dan waspadai calon pemimpn yang berkarakter demikian,”ujar Ayub.