Apalagi, ketika seseorang mensosialisasikan dirinya, maka akan ada pernyataan lanjutan dari masyarakat yang hadir. Dan ini struktur berpikir masyarakat umumnya, yang memiliki kepekaan akan budaya yang tinggi.
“Dia akan berbisik pada sesamanya: Coba lihat dia baik-baik atau timbang baik-baik. Bukan artinya dengan mata badani, melainkan melihat dengan mata hati. Mereka yang hidup dalam tataran budaya, tidak melihat dengan mata badani, melainkan sampai pada kedalaman hati. Mencoba meramal isi hati orang. Ini berarti kapasitas, isi hati dan isi pikiran orang sangat diperlukan.”
Karena itu seseorang yang berniat menjadi pemimpin haruslah memiliki kapasitas yang mumpuni, tidak asal mimpi semalam, lalu menyatakan mau bertarung. Karena masyarakat akan merasakan dengan hati, merekalah yang akan memilih dan menentukan masa depannya.
“Mereka mengambil keputusan sesuai nurani. Karena jika salah memilih, tentu menyesal selama lima tahun karena pemimpinnya salah dipilih. Karena isi hati dan isi pikirannya yang membuat orang ada dimana, sampai dimana dan buat apa. Tercermin dari isi hati dan pikirannya. Sehingga kalau dia jauh berjalan, banyak berbuat, inilah yang akan menolong dia. Saya tekankan berulang-kali mengenai kapasitas karena ini sangat penting,” ujar Ayub. Tentu harus bisa dibuktikan isi pikiran dan isi hatinya, sehingga tidak terkesan menipu publik.





Tinggalkan Balasan