Sedangkan mengenai isi tas, atau kemampuan finansial, juga disoroti Ayub. Baginya, uang penting sebagai penggerak, namun bukan segalanya. Jika seseorang memiliki kapasitas yang cukup, didukung kapabilitas yang bisa dipercaya, tentu dia akan menemukan jalannya sendiri, dan jalan ini bermuara pada keberhasilan.
“Kalau orang hatinya baik, pikirannya baik dan apa yang baik di dalam diri, dia tunjukkan apa yang sudah dilakukannya, saya pikir ada orang yang akan menopang dia. Sehingga terkait kriteria pemimpin, saya lebih melihat Tas pertama dan kedua. Bukan berarti uang tidak perlu, karena politik sekarang butuh uang. Orang yang baik saya yakin akan ada jalan. Kalau pakai istilah iman, tidak ada yang mustahil bagi seorang baik.”
Waspadai Politisi ‘Santa Clauss’
Sementara ketika berbicara mengenai kondisi NTT saat ini, dia membuka bahwa PBB sudah mendesain program membebaskan penduduk dunia dari kemiskinan. Dan tahun 2000-2015 atau 15 tahun perama dikemas dalam program MDGs. Lalu tahun 2016-2030 atau tinggal 6 tahun kedepan, kemiskinan sudah haus dihapus di bumi ini.
“Nah ini kondisi kita saat ini. Riil kita hari ini, kondisi kemiskinan di Indonesia rata-rata di bawah 10 persen, artinya dari 100 orang mungkin sembilan orang yang miskin, sisanya tidak. Tetapi di NTT saat ini, dari 100 orang, 20-nya miskin sedangkan saat yang sama, Indonesia di bawah 10. Nah sekarang menurunkan itu tidak gampang. Penduduk NT sudah 5 juta. Orang miskin kita masih lumayan banyak,” ujarnya menambahkan garis batas kemiskinan yang diterapkan di Indonesia standarnya lebih tinggi.
Dimana garis batas kemiskinannya lebih tinggi tapi jumlah orang miskinnya lebih rendah. Sedangkan sebaliknya di NTT, standar kemiskinannya lebih rendah tetapi jumlah orang miskinnya lebih tinggi.
Jika garis batas kemiskinan terus menerus dinaikkan oleh negara-negara maju maka bukan tidak mugkin, kita tetap akan berada pada posisi sebagai daerah dengan status kemiskinan ekstrim.
“Nah untuk menyelesaikan ini bukan dengan pergi dan bantu mereka dengan beras, minyak goreng, odol gigi, sabun mandi, bukan begitu. Tetapi siapa yang punya kapasitas, kapabilitas, untuk menolong orang miskin, berpikir lebih luas, revolusioner, itu baru bisa memimpin di daerah ini. Membantu orang miskin jangan sampai seperti anda memasukkan mereka dalam kandang, lalu paronisasi. Dikasi bantuan. Memang dia gemuk, ada makanan, tapi tidak cukup demikian, dia akan menjadi pribadi gampangan, malas,” ungkap Ayub dengan nada serius.







Tinggalkan Balasan