Sedangkan aspek kedua, yakni ‘Kapabilitas’. “Ini juga saya lokalkan, yakni kemampuan orang itu menunjukkan, memperlihatkan isi hati dan isi pikirannya. Kalau dia pikir tentang menolong orang berati kapabilitynya adalah kapan dan dimana dia menolong. Kemampuan dia menunjukkan apa yang dia karyakan. Itu sudah memperlihatkan isi hati dan isi pikirannya. Perlu dicatat disini,kalau sekedar isi hati dan pikirannya dia tunjukkan misalnya, saya buat ini untuk dipuji, supaya dipilih, ini akan terjawaba oleh waktu. Nah saat ini masa untuk mengkonfirmasi informasi itu. biasanya kangsung ketahuan maunya,”ntegas Ayub. Karya ketulusan pasti akan menimbulkan kenyamanan bagi yang menerimanya.
Sedangkan mengenai isi tas, atau kemampuan finansial, juga disoroti Ayub. Baginya, uang penting sebagai penggerak, namun bukan segalanya. Jika seseorang memiliki kapasitas yang cukup, didukung kapabilitas yang bisa dipercaya, tentu dia akan menemukan jalannya sendiri, dan jalan ini bermuara pada keberhasilan.
“Kalau orang hatinya baik, pikirannya baik dan apa yang baik di dalam diri, dia tunjukkan apa yang sudah dilakukannya, saya pikir ada orang yang akan menopang dia. Sehingga terkait kriteria pemimpin, saya lebih melihat Tas pertama dan kedua. Bukan berarti uang tidak perlu, karena politik sekarang butuh uang. Orang yang baik saya yakin akan ada jalan. Kalau pakai istilah iman, tidak ada yang mustahil bagi seorang baik.”





Tinggalkan Balasan