Padahal sebenarnya menyelesaikan masalah orang kaya berbeda dengan masalah orang kecil.
“Karena itu NTT butuh seorang pemimpin yang punya isi hati dan isi pikiran yang kaya dan besar. Mau merangkul semua untuk menyelesaikan semua persoalan yang unik dna kompleks. Nah ingat, kenapa ini perlu dipertimbangkan. Seseorang ingin melakukan sesuatu karena isi hati dan isi pikirannya mendorong dia untuk berbuat sesuatu,” tambahnya.
Apalagi, ketika seseorang mensosialisasikan dirinya, maka akan ada pernyataan lanjutan dari masyarakat yang hadir. Dan ini struktur berpikir masyarakat umumnya, yang memiliki kepekaan akan budaya yang tinggi.
“Dia akan berbisik pada sesamanya: Coba lihat dia baik-baik atau timbang baik-baik. Bukan artinya dengan mata badani, melainkan melihat dengan mata hati. Mereka yang hidup dalam tataran budaya, tidak melihat dengan mata badani, melainkan sampai pada kedalaman hati. Mencoba meramal isi hati orang. Ini berarti kapasitas, isi hati dan isi pikiran orang sangat diperlukan.”
Karena itu seseorang yang berniat menjadi pemimpin haruslah memiliki kapasitas yang mumpuni, tidak asal mimpi semalam, lalu menyatakan mau bertarung. Karena masyarakat akan merasakan dengan hati, merekalah yang akan memilih dan menentukan masa depannya.
“Mereka mengambil keputusan sesuai nurani. Karena jika salah memilih, tentu menyesal selama lima tahun karena pemimpinnya salah dipilih. Karena isi hati dan isi pikirannya yang membuat orang ada dimana, sampai dimana dan buat apa. Tercermin dari isi hati dan pikirannya. Sehingga kalau dia jauh berjalan, banyak berbuat, inilah yang akan menolong dia. Saya tekankan berulang-kali mengenai kapasitas karena ini sangat penting,” ujar Ayub. Tentu harus bisa dibuktikan isi pikiran dan isi hatinya, sehingga tidak terkesan menipu publik.
Sedangkan aspek kedua, yakni ‘Kapabilitas’. “Ini juga saya lokalkan, yakni kemampuan orang itu menunjukkan, memperlihatkan isi hati dan isi pikirannya. Kalau dia pikir tentang menolong orang berati kapabilitynya adalah kapan dan dimana dia menolong. Kemampuan dia menunjukkan apa yang dia karyakan. Itu sudah memperlihatkan isi hati dan isi pikirannya. Perlu dicatat disini,kalau sekedar isi hati dan pikirannya dia tunjukkan misalnya, saya buat ini untuk dipuji, supaya dipilih, ini akan terjawaba oleh waktu. Nah saat ini masa untuk mengkonfirmasi informasi itu. biasanya kangsung ketahuan maunya,”ntegas Ayub. Karya ketulusan pasti akan menimbulkan kenyamanan bagi yang menerimanya.







Tinggalkan Balasan