Ia menjelaskan, motif Tenun Malaka yakni futu (ikat), Fafoit adalah motif dibentuk dengan cara diikat. Semebtara Ciri tenun Malaka adalah Lotuk (lembut), mon (jernih) dan ktetuk (penempatan gambar pada frame dengan tepat).

Jenis motif tenun Malaka antara kain disebut Taia Maho Naran/titemisme. Motif tenun Malaka  Lafaek (buaya) yang dibuat dalam berbagai bentuk yakni tunggal dan ganda, Bereleku Knuk, Silu Kesak, Futus Kukit, Surik Ulun, Fafoit Laho, Manlea, Sasui, enintais, mutin, mutin kodi kanai loro liurai  atau tenunan kain putih yang biasa dipakai dalam ritual adat kematian, Tais Nai Nurak, Ri Hitus, Futus Baria Fuan, Marobo Waiwiku, Ai Funan.

Ia menjelaskan secara historis, tenunan merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat yang diwariskan dari  generasi ke generasi berikutnya.

Karena merupakan kearifan lokal, maka tenun Malaka memiliki fungsi sebagai Penanda sebuah komunitas, Elemen Perekat (aspek kohesif) dalam masyarakat, unsur kultural yang ada dan hidup dalam masyarakat, warna kebersamaan sebuah komunitas.