Dalam melaksanakan misi, para misionaris datang dari Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Misionaris juga datang dari India, yang punya penduduk beragama Hindu terbesar di dunia. Ini suatu fenomena yang juga turut dikaji dan disampaikan dalam Simposium.

Hal kedua menurut Pater Rektor, topik simposium internasional ASPAC MER menjadi relevan dengan radikalisme dalam kebudayaan, yang dikenal dengan etnosentrisme.

Hal yang akan dibahas juga adalah terkait dengan radikalisme agama, di mana banyak orang menganggap bahwa kebenaran agamanya paling asbsurd.

“Justru pola pikir misi pada jaman post modern dan post truth, harus terbuka untuk menerima kebenaran dalam berbagai macam sumber kebenaran termasuk dengan agama dan sumber kebudayaan lain,” tandas Pater Rektor.

Informasi yang dihimpun KORANNTT.com, Simposium Internasional ke-6 ASPAC MER dibuka pada sore hari ini lewat misa atau perayaan ekaristi.

Perayaan ekaristi berlangsung di lantai 4 Gedung Rektorat Unwira Kupang dan dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Pendidikan Katholik Arnoldus (YAPENKAR) Kupang, P. Yulius Yasinto, SVD, M.A., M.Sc. (*)