Unwira Kupang Jadi Tuan Rumah Simposium Internasional ke-6 ASPAC MER

Simposium Internasional ke-6 ASPAC MER digelar mulai tanggal 22 sampai 25 Juni 2022.

Unwira Kupang Jadi Tuan Rumah Simposium Internasional ke-6 ASPAC MER
Foto bersama (dari kiri ke kanan) Prof. Dr. Sebastian M. Michael, SVD, Dr. Jose K. Jacob, SVD, Dr. Philipus Tule, SVD, Dr. Stanis T. Lazar, dan Dosen Bahasa Inggris Miss Pricila Asis Hornay, usai jumpa Pers bersama wartawan di Gedung Rektorat Unwira Kupang. (Foto: Ama Beding)

Kupang, KN – Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang menjadi tuan rumah perhelatan Simposium Internasional ke-6 ASPAC MER tahun 2022.

Sesuai dengan namanya, ASPAC (Asian- Pasific) MER (Mission, Education and Research) merupakan sebuah organisasi Kristen milik Kongregrasi SVD (Societas Verbi Divini), yang bergerak dalam bidang Misi, Pendidikan, dan Penelitian.

Simposium Internasional ke-6 ASPAC MER yang digelar mulai tanggal 22 sampai 25 Juni 2022 ini, mengangkat tema “Christian Mission in the Post Modern and Post Truth Society“.

Rektor Unwira Kupang Dr. Philipus Tule, SVD akan menjadi pembicara utama pertama, yang membawa materi dengan topik “Thinking and Acting Through Cultures (Doing Mission in Post-Nietzschean and Post-Schmidtian Society)“.

Sementara materi kedua dalam Simposium Internasional ASPAC MER dibawakan oleh Direktur Institute of Indian Culture Prof. Dr. Sebastian M. Michael, SVD tentang “Postmodern Challenges to Christian Mission in an Asian Context“.

Sekretaris Umum SVD Roma, Dr. Stanis T. Lazar SVD mengatakan, Simposium Internasional ASPAC MER pertama kali digelar di Jepang pada tahun 1994.

Simposium Internasional ASPAC MER melibatkan kurang lebih 17 negara di Asia Pasific, untuk membahas sejumlah isu menarik dan terkini di negara-negara Asia Pasifik.

“Kami berkonsentrasi pada misi, pendidikan, dan penelitian, termasuk mengajar, menulis, dan publikasi hasil penelitian ilmiah,” kata Stanis Lazar dalam jumpa Pers bersama wartawan di Gedung Rektorat Unwira Kupang, Rabu 22 Juni 2022.

Menurut Pater Stanis, misi ASPAC MER adalah untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini, khususnya di negara-negara Asia Pasifik.

Sementara Direktur Institute of Indian Cultural Prof. Dr. Sebastian M. Michael dalam kesempatan yang sama mengatakan, dalam simposium tersebut, pihaknya ingin membahas tentang misi Kristen di era post modern.

“Kami ingin memahami dengan ilmiah, apa yang terjadi hari ini, dari sisi ilmu antropologi dan sosiologi,” Pater Sebastian.

Ia menyampaikan, di era post modern, segala sesuatu harus dijelaskan secara ilmiah atau menggunakan rasionalitas. Ini merupakan sebuah tantangan yang akan dijawab melalui Simposium Internasional tersebut.

BACA JUGA:  Jual Beli Sepeda Motor Curian Seharga Rp300 Ribu, Tiga Pria di NTT Ditangkap Polisi

Koordinator ASPAC MER dan Direktur Lembaga Riset Kebudayaan Sanskriti-NEI, Guwati, India, Dr. Jose K. Jacob, SVD mengatakan, para peneliti muda dan senior di bidang misi, pendidikan, dan penelitian akan terlibat dalam Simposium Internasional ini.

“Tujuannya untuk mempertemukan orang-orang dari berbagai macam latar belakang pendidikan. Sehingga nantinya mereka tidak hanya fokus pada satu disiplin ilmu saja, tetapi juga harus multi disiplin ilmu,” jelas Pater Jose.

Sementara itu, Rektor Unwira Kupang, Dr. Philipus Tule, SVD mengatakan, misi Kristen saat ini merupakan tugas panggilan semua anggota gereja, khususnya SVD dan gereja-gereja lokal.

“Di jaman post modern, ada suatu fenomena baru, bahwa ada peralihan kita dari Indonesia, India dan Asia mengirim misionaris ke Eropa. Ini merupakan salah satu perubahan cara berpikir, dan pola berkarya misi dengan membawa kekhasan-kekhasan nilai dari Indonesia, India maupun Asia. Ini juga menjadi hal menarik untuk dikaji melalui studi,” kata Pater Philipus.

Dalam melaksanakan misi, para misionaris datang dari Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Misionaris juga datang dari India, yang punya penduduk beragama Hindu terbesar di dunia. Ini suatu fenomena yang juga turut dikaji dan disampaikan dalam Simposium.

Hal kedua menurut Pater Rektor, topik simposium internasional ASPAC MER menjadi relevan dengan radikalisme dalam kebudayaan, yang dikenal dengan etnosentrisme.

Hal yang akan dibahas juga adalah terkait dengan radikalisme agama, di mana banyak orang menganggap bahwa kebenaran agamanya paling asbsurd.

“Justru pola pikir misi pada jaman post modern dan post truth, harus terbuka untuk menerima kebenaran dalam berbagai macam sumber kebenaran termasuk dengan agama dan sumber kebudayaan lain,” tandas Pater Rektor.

Informasi yang dihimpun KORANNTT.com, Simposium Internasional ke-6 ASPAC MER dibuka pada sore hari ini lewat misa atau perayaan ekaristi.

Perayaan ekaristi berlangsung di lantai 4 Gedung Rektorat Unwira Kupang dan dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Pendidikan Katholik Arnoldus (YAPENKAR) Kupang, P. Yulius Yasinto, SVD, M.A., M.Sc. (*)