Revolusi Surga tidak berorientasi pada pencarian popularitas, jabatan dan kekayaan sebab memang Allah tidak membutuhkan itu. Revolusi Surga terarah pada pembebasan jiwa-raga, hati dan pikiran seluruh warga manusia yang telah bertambat pada paham radikalisme ekstrem yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan memperkosa nilai-nilai moral. Orientasi revolusi Surga selalu terarah pada misi untuk meruntuhkan kuasa kerajaan maut yang merajai hati dan pikiran manusia serentak menggantinya dengan mendirikan Kerajaan Allah di dalam hati, pikiran dan hidup manusia. Atas dasar ini, jelas bahwa revolusi Surga hadir bukan untuk merebut kekuasaan politik dan teritori tertentu, melainkan ia hadir ke dalam dunia untuk merebut hati, pikiran dan hidup manusia dari belenggu kerajaan iblis. Titik klimaks dari revolusi Surga ialah drama pengadilan di halaman istana Pilatus dan tragedi berdarah di puncak bukit Golgota.

Natal merupakan saat istimewa di mana Allah telah menjadi manusia dan datang melawat gubuk kehidupan manusia. Ia yang kudus mewujudkan diriNya sama dengan manusia dengan maksud untuk mengisi tempayan hati dan pikiran manusia dengan anggur kasih, kedamaian, keadilan, kebenaran, pengampunan, persaudaraan dan solidaritas. Tapi, terkadang manusia hasil karya tangan Allah itu tak ingin membuka diri kepadaNya, justru berupaya untuk menjadikan dirinya sebagai oposisi Allah dan berkeinginan merebut posisi Tuhan. Natal mengajak setiap kaum Kristiani agar mengubah gaya hidup lama yang sarat dengan keangkuhan, ketamakan, egoisme, iri hati, balas dendam, mental feodal, koruptif, sukuis, praktik ketidakadilan, penindasan terhadap umat sederhana dan perampasan hak kaum marginal-miskin. Revolusi Surga mengajak kaum Kristiani untuk melucut mantel hidup lama yang sudah usang dan ternoda oleh dosa dengan busana damai Natal yang menyejukan hati dan jiwa.