Slogan “ajaib” liberte, egalite dan fraternite menjadi cikal bakal berhembus kencangnya angin liberalisme dan demokrasi yang sebelumnya tidak diberi ruang untuk menampilkan diri di atas papan catur politik Prancis. Api revolusi Prancis yang sungguh dahsyat itu mampu mengubah secara radikal tatanan sosial dan sistem politik yang cukup signifikan, bukan hanya bagi masyarakat Prancis, melainkan juga bagi masyarakat Eropa dan seluruh dunia. Revolusi Amerika Serikat yang diprakarsai oleh Samuel Adams, Thomas Jefferson dan kawan-kawan dalam menentang kebijakan pajak komoditi dari pemerintah Inggris yang sangat memberatkan masyarakat koloni Amerika. Salah satu gerakan paling fenomenal dalam revolusi Amerika ialah peristiwa The Boston Tea Party yang kemudian berdampak pada deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat 4 Juli 1776 dari Britania Raya. Beberapa hal terpenting yang lahir dari revolusi ini ialah hak untuk hidup, hak untuk bebas, hak untuk bahagia dan kesetaraan yang kemudian dikenal sebagai piagam hak asasi manusia.
Revolusi unik berbasis pada nilai-nilai spiritual dan moral, yakni tanpa kekerasan (ahimsa) dan peneggakan kebenaran (satyagraha) di India yang digagas oleh Mohandas Karamchand Gandhi dalam menentang kolonialisme Inggris. Model revolusi Gandhi ini kemudian diadopsi oleh Martin Luther King Jr dan Nelson Mandela dalam menentang problem rasisme yang telah berakar kuat di Afrika Selatan dan Amerika Serikat. Revolusi Rusia terjadi dalam dua fase. Pertama, revolusi Februari 1917 yang dinahkodai oleh Alexander Kerensky yang berhasil merontokkan monopoli politik kekaisaran Rusia pimpinan Tsar Nikolas II dan mengubah sistem pemerintahan monarki menjadi republik liberal. Kedua, revolusi Oktober 1917 yang dimotori oleh Leon D. Trotsky dan Vladimir Lenin dari partai Bolshevik yang mengganti sistem politik liberal menjadi komunis. Revolusi politik negri Tiongkok 1911 yang dipimpin oleh Sun Yat Sen dalam upaya untuk meluluhlantakkan dinasti Qing yang sangat feodal dan korup menjadi republik demokratis. Sesudah revolusi Sun Yat Sen, muncul revolusi 1949 dan revolusi 1966 pimpinan Mao Zedong yang mengubah karakter sosio-politik negri Tirai Bambu ke dalam tradisi leluhur bangsa Tiongkok (Lukman Santoso Az, 2014).
Merujuk pada fakta gerakan revolusi di atas, maka bisa dirumuskan bahwa pada hakekatnya telos (tujuan) dari setiap gerakan revolusi ialah supaya terjadi perubahan secara cepat dan menyeluruh dalam tatanan kehidupan masyarakat. Gerakan-gerakan revolusi bisa berwujud radikal-anarkis dan bisa juga terjadi melalui jalan damai ala Mahatma Gandhi di India. Jadi, sari pati dari sebuah gerakan revolusi ialah mengubah tatanan kehidupan masyarakat dari kondisi yang tidak baik (buruk) menjadi lebih baik yang ditandai dengan adanya kebebasan, keadilan, kesetaraan dan kemakmuran hidup bagi semua klas manusia.
Revolusi Surga: Catatan Kecil Tentang Natal
Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini



Tinggalkan Balasan