Upacara Adat Tulude

Di penghujung tahun atau di tahun baru, warga Sangihe Talaud yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara selalu menggelar upacara adat Tulude. Dalam bahasa Sangihe, tulude berasal dari kata Suhude yang artinya tolak. Tulude dimaknai sebagai penolakan terhadap tahun yang lama atau menolak meratapi kehidupan di tahun sebelumnya dan kesiapan untuk menerima tahun baru.

Tulude secara hakikat merupakan bentuk pengucapan syukur kepada Mawu Ruata Ghenggona Langi (Tuhan Yang Maha Kuasa) atas berkatnya selama setahun yang telah berlalu. Warisan budaya Tulude ini penuh makna dan sarat-sarat nilai keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa.

Upacara adat Tulude dilaksanakan sejak abad XVI dan hingga kini masih tetap dilestarikan. Mulanya upacara ini dilaksanakan pada 31 Desember alias di penghujung tahun. Namun, seiring berkembangnya zaman, waktu pelaksanaannya diubah menjadi di akhir Januari di tahun selanjutnya.

Sebelum acara puncak Tulude, yakni pada dua minggu sebelumnya, ada kegiatan melepas bininta (perahu kecil) ke tengah laut. Perahu tersebut berisi berbagai benda sebagai wujud persembahan pada Tuhan. Kegiatan ini bermakna membuang segala hal buruk di tahun lama dan mengucap syukur atas datangnya tahun baru.