Upacara adat Tulude dilaksanakan sejak abad XVI dan hingga kini masih tetap dilestarikan. Mulanya upacara ini dilaksanakan pada 31 Desember alias di penghujung tahun. Namun, seiring berkembangnya zaman, waktu pelaksanaannya diubah menjadi di akhir Januari di tahun selanjutnya.

Sebelum acara puncak Tulude, yakni pada dua minggu sebelumnya, ada kegiatan melepas bininta (perahu kecil) ke tengah laut. Perahu tersebut berisi berbagai benda sebagai wujud persembahan pada Tuhan. Kegiatan ini bermakna membuang segala hal buruk di tahun lama dan mengucap syukur atas datangnya tahun baru.

Apabila perahu tersebut dibawa arus laut dan terdampar di pantai atau desa tetangga, maka orang yang menemukannya wajib menolak dan menghanyutkannya kembali ke laut. Jika tidak, konon, hal buruk yang menimpa warga pertama kali melepas perahu tersebut akan berbalik menimpa warga yang tinggal di tempat perahu tersebut terdampar.

Setelah pelepasan perahu ke laut, tahap berikutnya dalam upacara Tulude adalah membuat kue tamo di rumah tokoh adat. Ini dilakukan sehari sebelum acara puncak. Bahan pembuatan kue tamo adalah beras ketan, gula merah, minyak kelapa, bubuk kayu manis, papaya, kelapa muda, dan pisang raja.

Waktu pelaksanaan upacara adat Tulude adalah sore hari hingga malam hari selama kurang-lebih 4 jam. Waktu 4 jam ini dihitung mulai dari acara penjemputan kue adat Tamo di rumah pembuatan lalu diarak keliling desa atau keliling kota untuk selanjutnya dibawa masuk ke arena upacara. Selama perarakan, penonton dihibur dengan penampilan tarian tradisional dan kelompok musik. Selanjutnya, kue akan dipotong dan dilanjutkan dengan pesta rakyat sebagai prosesi akhir.

Ritual adat Tulude menjadi momentum untuk mengucap syukur dan merekatkan kerukunan yang berujung kepada kesejahteraan masyarakat.

Dari ulasan mengenai berbagai ritual adat menyambut tahun baru tersebut, terungkap adanya makna yang penuh nilai dan filosofi. Perayaan tahun baru bagi suku tertentu adalah ritual simbolis yang sangat diyakini oleh pemeluknya, yang dapat memberi berkah dan kebahagiaan pada tahun mendatang dan atas segala harapan. Aktualisasi nilai- nilai religi dan kebijaksanaan hidup di dalamnya mengajarkan pemahaman terhadap hubungan Tuhan dengan manusia dan alam sekitarnya. Inilah refleksi tahun baru yang sesungguhnya, bukan sekadar diekspresikan dengan cara-cara gempita. Namun harus menjadi momentum bagi perjalanan hidup yang lebih bermakna. (*)