Yang menarik, Reba tidak saja menjadi kesempatan istimewa bagi orang Ngada untuk berkumpul dalam rumah adat masing-masing. Reba juga menjadi kesempatan berahmat karena segala permusuhan, perselisihan dalam keluarga harus berakhir saat itu juga. Ritual adat ini merupakan pemulihan hubungan yang harmonis dengan Tuhan, alam dan leluhur serta membangun kembali persaudaraan diantara keluarga dan sesama seluruh masyarakat Ngada.
Lewat Reba, manusia seperti ‘terlahir baru’. Baru dalam sikap, tutur kata dan perbuatan. Sebab dalam pesta Reba, anak-anak generasi baru selalu diingatkan akan Pata Dela (Suara Leluhur).
“Dewa zeta nitu zale (percaya pada Tuhan YME). Bhodha molo ngata go kita ata (menaruh hormat pada kemanusiaan). Dhepo da be’o, tedu da bepu (meneladani para pendahulu). Dhuzu punu ne’e nama raka (belajar dan bekerja sampai tuntas). Dua wi uma nuka wi sa’o (pergi ke kebun dan kembali ke rumah; cari pekerjaan yang baik, sehingga bisa kembali ke rumah dengan selamat)”.
“Modhe-modhe ne’e soga woe, meku ne’e doa delu (berbuat baik dengan sahabat). Maku ne’e da fai walu, kago ne’e da ana salo (bersimpati dengan para janda dan anak yatim piatu; bersimpati dengan kaum miskin dan terlantar). Go ngata go ngata, go tenge go tenge (milik orang lain, biarlah menjadi milik orang lain; akuilah milik orang lain; jangan serakah). Kedhu sebu pusi sebu (mengutamakan nilai-nilai luhur). Bugu kungu nee uri logo (tekun bekerja dan menikmati keringat sendiri)”.



Tinggalkan Balasan