Sebelum adanya pandemi covid-19, sistem pendidikan Indonesia memang menekankan bahwa orang tua merupakan influencer paling kuat dalam pembentukan karakter anak-anak mereka. Dalam artian orang tua memiliki keterlibatan jika anak-anak mereka memperoleh karakter yang baik atau karakter yang buruk. Dan juga sebelum pandemi ini, beberapa orang tua selalu menyalahkan tenaga pengajar/guru jika anaknya melakukan kesalahan di sekolah, namun anehnya ketika guru memberi sanksi atas kenakalan atau kesalahan yang dilakukan oleh anaknya, orang tua marah lagi kepada guru dengan tuduhan melakukan kekerasan kepada anak. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya kasus guru yang dipenjarakan akibat masalah yang terbilang sepele.

Berdasarkan hal tersebut, di situasi pandemi covid-19 ini, orang tua harus sadar bahwa membentuk karakter anak bukanlah hal yang mudah, dan upaya dalam pembentukan karakter tidak hanya dapat dilakukan dengan pemberian peringatan yang lembut, karena terkadang beberapa anak didik harus diberi peringatan dengan keras yang memiliki efek jerah atas kesalahan yang mereka lakukan. Semoga di masa pandemi ini dan bahkan setelahnya, orang tua dan guru dapat membentuk saling pengertian untuk membina pendidikan karakter. Karena mustahil memperoleh pendidikan karakter yang baik jika hanya orang tua atau hanya guru yang memiliki peran aktif dan ada saling curiga di dalamnya.

Dan secara kinerja pendidikan karakter bertujuan melahirkan pribadi pemberani, kuat, tangguh, pantang menyerah, terampil. Tidak terpaku pada pembangunan spiritual tapi juga membentuk pribadi-pribadi yang berjiwa besar sebagai kolaborasi dengan tambahan adanya kompetensi yang harus dikembangan oleh pendidik yaitu kritis, kreatif dan kolaboratif.

Dengan pertimbangan diatas perlu adanya gebrakan guru dan pendidik dilatih serta dibimbing akan pentingnya pendidikan karakter sebagai harga mati dunia pendidikan islam. Pemerintah memfasilitasi guru dengan pelatihan, bimtek, juknis, seminar dan program untuk menunjang implementasi pendidikan karaker yang menjadi GOAL pemerintah saat ini. Tugas mulia ini tidak mungkin dilaksanakan oleh penyelenggara pendidikan saja, lagi-lagi campur tangan orang tua/wali murid serta masyarakat sangat penting dalam memonitoring hingga menjadi pelopor pendidikan dirumah dan dilingkungan masing-masing. Iktiar mereka yang berada dalam koredor lembaga formal tidak maksimal tanpa adanya support dari masyarakat, tugas yang dilaksanakan disekolah terstruktur dengan baik akan sia-sia jika keluarga dirumah tidak memperhatikan dan mengontrol anak-anak pulang sekolah. Idealnya kerjasama pendidik dengan  wali peserta didik harus diperhatikan dengan serius.