Masalah kesehatan dari aspek ekonomi juga menimbulkan eskalasi biaya pelayanan medis (kuratif) yang terjadi, antara lain, pertama, meningkatnya jumlah penduduk yang harus dilayani. Membengkaknya jumlah penduduk yang harus dilayani tidak hanya merupakan akibat pertumbuhan penduduk, tetapi juga karena meningkatnya jangka harapan hidup (sehingga makin banyak orang usia lanjut dengan berbagai penyakit kronisnya) dan meningkatnya jumlah pemakai jasa pelayanan medis akibat meningkatnya taraf pendidikan dan ekonomi masyarakat.

Kedua, meningkatnya penggunaan pelayanan medis. Meningkatnya penggunaan pelayanan medis per kapita disebabkan oleh meningkatnya kesadaran akan makana kesehatan dan perubahan pola penyakit yang makin banyak memerlukan pelayanan kuratif. Perubahan sosial dari masyarakat agraris ke masyarakat pra-industri dan industri akan menyadarkan mereka tentang makna sehat dalam kaitannya dengan penghasilan dan makna hilangnya kesempatan kerja karena sakit. Ini akan mendorong mereka untuk lebih aktif mencari pertolongan ketika dirinya merasa sakit. Perubahan sosial yang demikian juga mengubah pola penyakit, dari penyakit infeksi dan menular ke penyakit akibat kecelakaan dan pencemaran lingkungan, yang memerlukan bantuan pelayanan medis yang lebih canggih.

Ketiga, meningkatnya penggunaan teknologi baru yang cukup mahal. Teknologi baru memang selalu disertai dengan munculnya harapan baru. Dalam hal teknologi medis, ia menimbulkan harapan bahwa diagnosis akan lebih cepat dan tepat. Demikian pula terapi akan lebih terarah dan memberi pemulihan yang lebih cepat. Pada masyarakat modern, yang main sadar akan makan waktu dan produktivitas, kecepatan diagnosis dan terapi sangat penting artinya meskipun menggunakannya demi kecepatan dan ketepatan pengobatan yang akan diterimanya.

Oleh karena itu, dari aspek ekonomi, penggunaan teknologi baru tidak selalu berarti mahal. Karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan akan dapat dikompensasikan dengan kecepatan pemulihan produktivitas. Ia baru akan jadi mahal jika teknologi digunakan secara tidak tepat dan efisien. Sayangnya, pada masyarakat yang baru saja meningkat dari masyarakat agraris tradisi onal ke masyarakat pra-industri dan modern, banyak di anatara mereka melihat teknologi baru sebagai “mainan” baru yang ditujukkan untuk meningkatkan gensi. Bak petani cengkeh, misalnya, yang baru menikmati limpahan uang hasil panen, lalu membeli lemari es meskipun tak ada listrik di desanya. Teknologi baru hanyalah bagian dari ritus sosial yang meningkatkan status sosial.