Bernardus T. Beding
Dosen Prodi PBSI Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng
Pemerintah Indonesia sedang memrioritaskan pembangunan kesehatan dengan tujuan mencapai kemapanan hidup sehat bagi seluruh masyarakat Indonesia, sekaligus mewujudkan derajat kesehatan optimal. Pembangunan kesehatan sedang menuju hasil mengesankan. Berbagai fasilitas kesehatan semakin canggih. Para pelayan kesehatan semakin dikuantitaskan. Laboratorium farmasi tidak jarang mengeluarkan penemuan obat-obatan yang memungkinkan harapan hidup pasien semakin meningkat.
Seiring dengan itu, sektor kesehatan dihadapkan pula pada berbagai tantangan sesuai tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat pedesaan masih rendah. Kesehatan lingkungan penduduk pada gilirannya telah mengubah pola penyakit yang ada, di samping kecenderungan perubahan kelompok umur dan perilaku masyarakat terhadap kesehatan.
Pertengahan tahun 2021 ini permintaan pelayanan kesehatan bertambah tinggi. Teknologi kesehatan pun semakin canggih guna menangani perubahan pola penyakit tertentu. Ini semua akan membawa dampak meningkatnya biaya kesehatan. Di Indonesia biaya kesehatan sudah cukup tinggi. Bila biaya kesehatan dikaitkan dengan laju pertumbuhan ekonomi dan inflasi, maka tampak bahwa penduduk golongan miskin di pedesaan makin tidak dapat menikmati pelayanan kesehatan yang ada. Hal ini jelas menimbulkan kepincangan pelayanan antara penduduk miskin di pedesaan dan penduduk kaya di perkotaan, terlepas adanya kepemilikian KIS atau BPJS.
Masalah kesehatan sebenarnya berawal dari cara pandang masyarakat tentang sakit dan tentang fungsi kehadiran dokter. Masyarakat agraris dan primitif, misalnya, sakit atau jatuh sakit masih dilihat sebagai takdir, terganggu setan, atau sebagai kutukan Tuhan. Maka cara mengatasinya adalah meminta bantuan dukun, tokoh agama, atau orang-orang yang dianggap pandai untuk mengusir setan sehingga pasien bisa sembuh.
Pola berpikir mencari penyelesaian secara kuratif ini seakan melekat pada masyarakat agraris, walaupun sarana pelayanan modern telah mencapai mereka. Bagi mereka, kehadiran puskesmas yang sebenarnya sebagaian besar tugasnya bukan kuratif, tetap saja dimanfaatkan terutama untuk kepentingan kuratif. Mereka lebih senang melihat pelayan kesehatan selalu ada di poliklinik, puskesmas untuk mengobati mereka daripada berkeliling memberi penyuluhan dan bimbingan kesehatan ke desa-desa.







Tinggalkan Balasan