Melki mungkin tidak pernah tahu filsafat Stoa, tetapi saya memberanikan diri untuk menyatakan: hidup dan karya politik Melki sangat stoikal, tepatnya: jiwa stoik seorang aktivis kristiani.

“Tukang Lobi itu Bernama Melki Laka Lena”

Beberapa orang dengan keras menyerang pasangan Melki-Johni karena terlalu mengandalkan pusat. Itu kritik dan vitamin yang baik adanya. Saya melihat dari sisi lain: konsistensi Melki untuk membantu NTT. Melki-Johni mengidentifikasi masalah utama NTT: sempitnya ruang fiskal. Dan obat yang mujarab adalah: lobi kepada pusat-pusat sumber keuangan di pusat.

Soal lobi pastilah Melki yang terhebat dari antara calon kepada daerah yang maju di NTT. Didukung oleh koalisi besar dan sejalan dengan kepemimpinan di pusat, Melki lebih bisa menghadirkan pemerintah(-an) pusat ke daerah (baca: APBN, non-APBN dan Swasta).

Saya beberapa kali menjadi saksi tentang jagonya Melki melobi para pembesar bangsa ini. Di antara kalangan para politisi sangat senior, Melki memang dikenal sebagai anak muda yang punya prospek sosial-politik yang bagus. Melki bisa menelpon dan ngobrol dengan Sultan Jogja. Melki bisa dengan luwes mempertemukan Aburizal Bakrie, Agung Laksono, Surya Paloh, dan lain-lain.