Selama masa kampanye ini, saya seringkali menonton dan mendengar melalui media sosial Melki menyanyikan lagu “Karena Cinta” (dipopulerkan oleh Joy Tobing) dan “Hadapi dengan Senyuman” (Dewa). Dua lagu ini kental dengan suasana stoikisme: kita hanya akan bisa mengubah apa yang bisa kita ubah, dan menerima dengan bijak apa yang terjadi tanpa kendali kita.
Riwayat biografis Melki Laka Lena memperlihatkan seorang pribadi yang telah makan garam dalam politik. Melki memulai karir politik dari bawah, dari usia yang sangat belia. Melki telah menyelesaikan semua jatah gagalnya dan saat ini—dengan bantuan Tuhan, leluhur dan masyarakat NTT—Melki bisa menjadi gubernur, dengan segala hal yang telah, sedang dan akan dilakukannya untuk daerah yang sangat dicintainya ini.
Bagi Melki, semua perjalanan politik yang dilalui menempatkannya sebagai “Alat di Tangan Tuhan”. Sesuatu yang kemudian membuat kita ingat bahwa stoikisme juga bisa berwajah sangat kristiani. Jika kita adalah alatnya Tuhan, maka kita siap ke manapun diutus.



Tinggalkan Balasan