Saya semakin yakin bahwa Melki menempatkan kritik sebagai vitamin saat pandemi covid-19 melanda bangsa ini dan seluruh dunia. Melki sebagai wakil ketua komisi IX DPR-RI sangat-amat sibuk memastikan Indonesia punya daya tahan pada serangan virus tersebut. Melki harus beraktivitas dari pagi hingga larut malam.

Beberapa kali kami bertemu di studio televisi tempat saya bekerja. Melki hadir sebagai narasumber tentang apa yang dilakukan pemerintah dan wakil rakyat selama pandemi. Biasanya setelah acara usai, Melki meminta saya untuk memberikan satu dua masukan serta kritik untuk mempercepat penyelesaian masalah. Minimal, katanya, dari pandangan para wartawan yang biasanya mengetahui lebih banyak hal secara umum.

Saya tidak segan-segan melontarkan kritikan untuk Melki, untuk komisi yang dipimpinnya, untuk DPR-RI pada umumnya dan untuk pemerintah agar Melki melanjutkannya ke pihak terkait. Melki menerima itu dengan satu sikap terbuka yang menurut saya sesuai dengan karakternya yang apa adanya. Hal itu juga yang saya temukan saat Melki berjibaku dalam pencalonan dirinya sebagai gubernur NTT.

Seperti kepada banyak seniores, saya selalu menitipkan pesan kepada Melki untuk selalu menjaga kesehatan di tengah padatnya kegiatan. Vitamin harus selalu ada di kantong baju dan dibawa kemana-mana! Ya, Vitamin!

“Jiwa Stoik Sang Aktivis”

Sebagai aktivis, Melki Laka Lena tipe eksekutor, tidak banyak omong, dan jauh dari kesan narsistik. Melki tidak terlalu memuja keindahan kata-kata, yang memang akan mudah jatuh dalam verbalisme sebagaimana yang kita lihat pada banyak (calon) pemimpin. Melki juga bukan tipe pemimpin narsistik yang harus mengatur gaya bicara, gaya berpose dan gaya berpakaian.

Melki hadir apa adanya di tengah masyarakat, terutama di antara mereka yang sedang menderita, tanpa sorotan cantik kamera dengan menjepit mic clip-on, apalagi sambil dengan gaya yang dibuat-buat untuk keperluan fotografi mengaduk periuk nasi pada korban bencana. Gaya yang tidak otentik seperti itu pasti bukan Melki!