Sebagai aktivis, Melki Laka Lena tipe eksekutor, tidak banyak omong, dan jauh dari kesan narsistik. Melki tidak terlalu memuja keindahan kata-kata, yang memang akan mudah jatuh dalam verbalisme sebagaimana yang kita lihat pada banyak (calon) pemimpin. Melki juga bukan tipe pemimpin narsistik yang harus mengatur gaya bicara, gaya berpose dan gaya berpakaian.

Melki hadir apa adanya di tengah masyarakat, terutama di antara mereka yang sedang menderita, tanpa sorotan cantik kamera dengan menjepit mic clip-on, apalagi sambil dengan gaya yang dibuat-buat untuk keperluan fotografi mengaduk periuk nasi pada korban bencana. Gaya yang tidak otentik seperti itu pasti bukan Melki!

Saat membaur bersama masyarakat sederhana, Melki lebih memilih mendengarkan keluhan dan curahan hati mereka. Mereka menangis bersama anak-anak korban bencana. Di tengah kegiatannya, Melki menghibur mereka dengan menyanyi bersama.

Soal nyanyian ini Melki mempunyai pilihan lagu yang menarik perhatian saya. Awalnya saya sempat tidak percaya saat Melki berkisah bahwa dirinya akrab dengan Musisi Franky Sahilatua dan bersama membuat syair untuk lagu “Aku Papua”. Cerita senior Valens Daki So’o kemudian membuat saya semakin yakin. Saya kemudian pernah secara tidak sengaja mendengarkan Melki menyanyikan lagu “Aku Papua” di Labuan Bajo, dengan penghayatan yang menurut saya sangat bagus.