Sementara Willy Soeharly menyampaikan, problem pokok ketenagakerjaan di NTT adalah corak produksi masih mewarisi corak produksi yang lama.
“Apapun kegiatannya itu hanya untuk bertahan hidup, bukan mengakumulasi untuk menghasilkan sesuatu,” jelasnya.
Ia menyatakan, problem ketenagakerjaan di NTT masih banyak. Salah satunya, upah yang diberikan ke para pegawai masih di bawah upah minimum regional.
“Misalnya di Manggarai kemarin, orang protes dipecat. Baru ketahuan, upahnya cuma 400-600 ribu per bulan. Ini kan tragis,” terangnya.
Willy berharap kader Partai Golkar NTT bisa menjalankan program hilirisasi di tingkat daerah. “Bila perlu ada pembangunan industri yang bisa mengubah corak produksi,” tandasnya. (*)
Halaman





Tinggalkan Balasan