KUPANG, KN — Suasana sakral penuh kekhidmatan menyelimuti Kapela Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui, Kupang, saat perayaan misa suci tahbisan 30 diakon baru yang dilaksanakan pada Sabtu (30/5).

 Adapun 30 diakon yang ditahbiskan berasal dari tiga keuskupan di wilayah Nusa Tenggara Timur, dengan rincian 10 orang dari Keuskupan Agung Kupang, 15 orang dari Keuskupan Atambua, dan lima orang dari Keuskupan Weetebula. Perayaan Ekaristi agung ini dipimpin langsung oleh Uskup Weetebula, Mgr. Edmund Woga.

Momen penting ini dihadiri oleh jajaran imam se-Keuskupan Agung Kupang, kaum biarawan-biarawati, keluarga para diakon, serta ribuan umat dari berbagai paroki. 

Turut hadir di tengah umat, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, bersama Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, yang didampingi oleh jajaran pejabat Pemerintah Kota Kupang untuk memberikan dukungan moral sipil terhadap peristiwa iman ini.

Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menyatakan bahwa tahbisan ini bukanlah seremonial belaka. Ia menekankan bahwa ikatan mulia ini merupakan panggilan iman yang suci, di mana para diakon diutus untuk melayani Tuhan serta seluruh umat manusia dengan ketulusan, kesederhanaan, dan dedikasi penuh tanpa pamrih.

Senada dengan Gubernur, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menyoroti tantangan sosial kemasyarakatan di era modern. Menurut dr. Christian, perkembangan teknologi serta derasnya arus informasi digital saat ini membawa kompleksitas tersendiri yang berpotensi memicu keretakan di tengah kehidupan sosial bermasyarakat.

“Pada era modern dengan membanjirnya penyebaran informasi seperti sekarang, kehadiran para diakon sangatlah kami butuhkan. Terlebih ketika banyak berseliweran informasi yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa. Di sinilah peran penting diakon dinantikan untuk menanamkan nilai-nilai moral, mempererat tali persaudaraan, menjaga toleransi, serta menghadirkan pelayanan spiritual yang mampu memperkokoh sendi-sendi kehidupan masyarakat,” urai dr. Christian Widodo.

Ia menambahkan, Kota Kupang sebagai ibu kota yang sarat akan kemajemukan suku, budaya, dan agama sangat membutuhkan kontribusi nyata para diakon. Sinergi antara pemerintah dan tokoh agama diharapkan mampu menjaga sekaligus memperkuat fondasi kerukunan antarumat beragama yang selama ini telah mengakar dengan indah di Kota Kupang.