“Di Bank NTT dijalankan model hybrid yakni perpaduan antara digitalisasi dan konvensional karena tidak mungkin meninggalkan konvensional dengan pertimbanhan karyawan, dan secara teori, teknologi itu berwajah ganda. Bagaikan pisau bermata dua. Satu sisi mempercepat kita namun di satu sisi ada gan besar bagi karyawan, apalagi kekuatan kita sebenarnya tidak saja di teknologi melainkan secara teori kekuatan kita adalah sosial manajemen. Kita masih ingin bertemu, komunikasi, dan ini sama halnya yang saya temukan di TTS tentang budaya gotong royong,” pungkasnya. (*/kn)



Tinggalkan Balasan