Ketika mereka mewawancarai beliau, dikatakan bahwa walau dalam beberapa tahun terakhir pendapatan perusahaan cenderung menurun, namun mereka yang bekerja di perusahaan sudah dianggapnya sebagai anak sendiri sehingga tidak mungkin di-PHK. Pekerjanya diberi keleluasaan utuk bertani di kebunnya, menanam aneka sayur dan palawija yang kemudian dijual untuk hidup.

“Ketika kami konfirmasi dengan karyawan, manajer disana, mereka katakan bahwa mereka menganggap Pak Hengky sebagai orang tua mereka sendiri sehingga ini terkonfirmasi. Kami bilang bahwa yang menentukan keberlangsungan perusahaan adalah dengan menggunakan pola kepemimpnan kebapakan. Paternalistik leadership,” ujar Frans sembari menambahkan bagi Hengky Lianto, perusahaan adalah pemberian Tuhan sehingga sudah sepatutnya dia memperlakukan karyawannya sebagai anak. Apalagi, di setiap pohon disana, dengan mudahnya ditemukan ada ayat Alkitab yang ditempelkan pada batangnya. Setiap pukul 06.00 pagi, seluruh karyawan berkumpul untuk bersekutu dan membaca Alkitab.

“Mereka benar-benar melakukan praktek bekerja dan berdoa. Penelitian kami ini mix methode. Kami coba analisa statistik dan signifikan. Artinya, memperkuat teori bahwa kepemimpinan yang diterapkan adalah kepemimpinan transformatif namun yang kami temukan di lapangan adalah kepemimpinan paternalistik,” tegasnya. Lagipula, ketika ditanya megenai big data, karyawan disana menyampaikan, kini mereka tidak butuh dokumen-dokumen tebal, melainkan hanya sebuah komputer dan kemudian seluruh data dilaporkan melalui internet. “Dan kini, seluruh karyawan disana gajinya sudah ditransfer melalui M-Banking Bank NTT. Ini satu kemajuan,” ungkap Frans Gana lagi.

Saat itu, Komisaris Utama, Juvenile Jodjana juga hdir dan memberi materi masih terkait thema. Yakni era digitalisasi. Dan diakui, digitaisasi sudah merubah segalanya, termasuk transaksi dalam bisnis. Dia adalah pelaku bisnis penerbangan dan juga perhotelan dan aneka bisnis lainnya usai menamatkan pendidikannya di Amerika.
Masih menurut Frans Gana. bisnis tidak hanya berheti di pola-pola manual melainkan sudah masuk ke tahapan digital. Di bank NTT khususnya ditemukan ada tiga model. Yakni konvensional. Baik operasional, penunjang, pengawasan dan sebagainya. Sementara pola kedua, adalah inovasi digitalisasi.