“Nah dengan adanya inovasi digitalisasi, curang bisa diminimalisasi. Jika ada yang berkata mengapa pendapatan berkurang, itu karena faktor historis yang memang perlu ditatakelola sedemikian rupa untuk dibenahi kembali. Hasil inovsi digitalisasi 40 persen pendapatan bisa ditingkatkan,”tegas akademisi yang dalam proses menjadi guru besar itu.

Dikatakannya, kita bisa menekan biaya sedemikian rupa walaupun menurut pandangan kita pendapatan berkurang namun ini sudah pada aspek history dan butuh waktu untuk recovery. Itu yang ditemukan. Lalu ad ajuga temuan bahwa ternyata inovasi itu bukan segala-galanya.

“Kita coba jajaki di perusahaan swasta. Ada pola yang bisa digunakan untuk menjamin keberlangsungan perusahaan swasta dalam sebuah bisnis yang dikelola oleh Hengky Liyanto yang bergerak di bidang penanaman kakao seluas 815 hektar di Sumba Barat dan hasil kakao ini dieksport ke luar negeri, dan menjadi salah satu yang terbaik di dunia karena mendapat penghargaan di Jerman. Seturut dengan penghargaan itu, secara teori bahwa kalau membangun satu usaha bisnis atau pabrik coklat, dia harus dekat dengan sumber bahan baku namun yang kami temukan, sumber bahan bakunya di Sumba, dan pabriknya di Kupang,” tuturnya sembari menambahkan “Ternyata ada kendala seperti suplay listrik dan sebagainya.”

Hal berikutnya adalah ada faktor determinan yang menjamin kelangsungan bisnis. Dan mereka melihat berdasarkan pengamatan, wawancara mendalam, diskusi terfokus bahwa paling tidak menurut penelitian mereka ada tiga faktor. Dia menyebut pertama, corporate social responsibility (CSR).
CSR secara teoritis, supaya perusahaan itu bisa berlangsung maka harus disisihkan pendapatannya sebagai tanggungjawab sosial. Dan ini sudah masuk dalam strategi perusahaan bahwa ketika untung baru menyisihkan penghasilannya untuk aksi sosial. Tapi ada pandangan berikut bahwa tidak perlu perusahaan mendapatkan untung lebih dahulu.

“Yang kami temukan adalah, bahwa ketika perusahaan ini dibangun oleh Hengky Lianto di Sumba, dia tidak perlu untung dahulu, namun sudah melakukan tanggungjawab sosial. Dia bangun gereja, sekolah, lalu dia juga menyediakan angkutan untuk anak sekolah yaang berada di lokasi. Dan saat ini penduduk yang bermukim di sekitar perkebunan, jumlahnya seribuan. Perusahaan ini bisa bertahan hingga 26 tahun. Yang kedua, itu ada pola lagi yang kami lihat bahwa Pak Hengky sebagai pimpinan dia menjalankan pola paternalistik leadership. Jadi kepemimpinan kebapakan,” tegas Frans serius.