Demokrasi Sedang Diuji

Di alam demokrasi, kritik ibaratnya energi (charge) bagi sebuah gawai. Jika energi hasil “charging”-nya habis, maka matilah gawai itu. Jangankan menjadi gawai yang cerdas, menjadi “gawai” saja hanya tinggal nama. Tidak berfungsi.

Jadi, salah satu syarat utama demokrasi ialah adanya kritik sebagai sumber energi bagi kekuasaan. Selain itu, bukankah demokrasi memiliki prasyarat menyebar kekuasaan? Dengan begitu, langkah awal dalam menyebar kekuasaan dan memberi asupan energi kepada demokrasi, adalah dengan memberikan ruang seluas mungkin untuk kritik.

Tentu saja, di era demokrasi digital ini pula, pemerintah dan publik perlu bersepaham bahwa “kritik”, berbeda dengan “ujaran kebencian” (hate speech), dan penyebaran hoaks. Agar demokrasi menjadi sehat, pemerintah dan publik perlu bersepaham dan bersepakat soal ini. Bahwa ujaran kebencian dan berita bohong berbeda dengan kritik.

Para pemikir dan pelaku sejarah berusaha menciptakan demokrasi karena “jengah” dengan praktik otoriter monarki yang suka menyebar rasa takut. Tak ada kebebasan dan kemerdekaan berpendapat di sistem otoriter. Dengan begitu, sistem demokrasi bertujuan sejak awal melawan atau mengganti sistem yang bertindak otoriter demi kemerdekaan dan kebebasan serta menghilangkan rasa takut.