Sebagai seorang pemikir besar, Marx tentu tahu baik sekali makna dan tujuan dari politik. Barangkali Marx melihat situasi politik pada masanya telah melenceng jauh dari tujuan hakiki politik. Oleh karena itu, kendatipun ia tidak berminat sama sekali pada soal-soal agama, tetapi nurani mendesaknya untuk mengingatkan kepada siapa pun yang berpartisipasi dalam politik boleh bergaul dengan setan hanya saja mereka mesti lihai untuk menipu dan menggiring si setan kepada jalan kebaikan. Apakah dalam konteks politik Indonesia, para politisi dan pejabat kita bergaul pula dengan setan untuk mencapai tujuan mereka dalam politik? Lah, tentu saja. Hanya saja, sialnya bahwa tidak semua politisi dan kaum elit memiliki basis yang kokoh untuk menipu setan dan membawanya kepada jalan kebaikan. Sebaliknya, setanlah yang berhasil menipu dan menggiring mereka ke dalam perangkapnya. Maraknya praktik korupsi di republik ini menunjukkan bahwa tuan-tuan pejabat kita yang suka korup bergaul dengan setan. Mereka tertipu oleh rayuan setan dengan lembaran-lembaran Rupiah yang menggiurkan mata dan hati. Nah, ketika mata mereka melihat umpan enak tersebut tak sungkan-sungkan dana bansos Covid-19 untuk rakyat yang sedang menderita dan merintih pun dilahapnya tanpa pertimbangan moral dan kemanusiaan bahwa wong cilik sangat membutuhkannya untuk menyambung hidup di tengah kerasnya kehidupan di masa pandemi ini. Lebih ironisnya lagi drama penjeratan hukum terhadap tuan-tuan penggasak bansos itu divonis ringan-ringan saja. Sampai pada titik ini, jargon revolusi mental menjadi relevan dan mendesak. Kiranya kita selalu waspada di masa pandemi ini agar tidak terinfeksi Covid-19 dan virus korupsi.*



Tinggalkan Balasan