Menurutnya, tujuan harmonisasi dan sinkronisasi sekolah sangat berkaitan erat dengan sertifikasi dan kinerja para guru, serta mendorong jejaring pemantauan supervisi.
“Karena mayoritas sekolah-sekolah pengawas itu milik Pemprov NTT. Kemudian para guru, khususnya guru agama yang ada di Kabupaten/Kota sangat kesulitan,” ucapnya.
Dia menjelaskan, pihaknya mendorong agar sekolah Kristen dan Katolik di NTT lebih banyak yang dinegerikan.
“Seperti MAN dan MTS kan dari dulu kita sudah dengar. Tetapi sekolah milik yayasan, Kristen atau SMA Swasta Katolik yang dinegerikan merupakan barang baru,” terang Kadis Linus Lusi.
Ia menjelaskan, pihaknya juga ingin memberikan motivasi, pembinaan ASN, informasi mutu, dan kebijakan pendidikan, yang dapat dimengerti oleh guru di bawah naungan Kemenag.
“Sehingga kepentingan daerah bisa tersalurkan. Karena sekolah hadir untuk kepentingan daerah. Dengan konsep ini, kita harap ada sumbangsih sekolah Kemenag setara SMA/SMK terhadap misi NTT Bangkit dan Sejahtera,” ungkapnya.



Tinggalkan Balasan