Penyakit Malaria memiliki pengaruh terhadap angka kesakitan dan kematian bayi, anak balita dan ibu melahirkan. Selain itu penyakit ini juga dapat menyebabkan penurunan produktivitas kerja bagi masyarakat di daerah terdampak. Beberapa gejala umum dari penyakit Malaria pada umumnya terdiri dari beberapa serangan demam dengan beberapa interval tertentu, dan diselingi dengan suatu massa dimana penderitanya tidak mengalami demam sama sekali. Untuk periode sebelum demam tersebut secara garis besar ditandai dengan munculnya gejala demam, lemah, sakit kepala, mual, nafsu makan berkurang, dan mual. Setelah gejala tersebut, penderita biasanya akan mengalami demam yang terdiri dari 3 stadia yaitu stadium dingin, stadium demam, dan stadium berkeringat.

Tingginya persentasi kasus malaria di Indonesia Timur yang mencapai angka 75 – 80 % menyebabkannya menjadi daerah endemis penyebaran dari penyakit Malaria. Pada tahun 2014 silam, Nusa Tenggara Timur juga pernah menjadi salah satu daerah endemik dari penyebaran Malaria terbanyak setelah Papua. Menurut data yang ada, nilai API (Annual Parasite Incidence) di provinsi ini pernah mencapai angka 12,81 %. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan terdapat beberapa faktor yang cukup berhubungan dengan tingginya kasus Malaria, seperti contoh adalah pendidikan, sikap, tindakan, penghasilan, pengetahuan, dan lingkungan. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang memiliki dampak terhadap penyakit malaria, walaupun tidak berpengaruh secara langsung. Selain pendidikan terdapat sikap dan tindakan masyarakat yang dapat memicu terjadinya kasus Malaria, seperti contoh adalah minimnya tingkat penggunaan kelambu dan insektisida. Faktor lingkungan juga berpengaruh terhadap penyebaran kasus Malaria, dimana rumah yang memiliki halaman tidak terawat, kondisi rumah yang minim cahaya matahari, kotor, dan lembab akan menjadi tempat perkembang biakan dari nyamuk anopheles.