Setiap pagi jurnal itu dibawa ke sekolah dan diperiksa oleh wali kelas. Jika ada murid yang tidak mengisi jurnal atau tidak membawanya ke sekolah, guru tidak langsung memarahi anak. Orang tua justru dihubungi melalui telepon. Pesannya sederhana, mari kita mendampingi anak belajar bersama.

Cara ini membuat rumah dan sekolah benar-benar terhubung. Orang tua tidak lagi hanya bertanya, “Hari ini dapat PR apa?”, tetapi ikut memastikan bahwa proses belajar memang terjadi di rumah. Menurut saya, di sinilah letak kekuatan utama Jam Belajar Masyarakat.

Program ini akan berjalan efektif apabila sekolah menjadi eksekutor utama. Sebab hanya sekolah yang memiliki perangkat lengkap untuk melaksanakan, memantau, mengevaluasi, sekaligus menindaklanjuti pelaksanaannya.

Dinas pendidikan, camat, lurah, RT, RW, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat tetap memiliki peran penting sebagai penggerak dan pendukung ekosistem belajar. Namun pelaksanaan sehari-hari tetap berada di tangan sekolah yang berinteraksi langsung dengan peserta didik.