Pada kolom “Gemar Belajar”, setiap anak wajib menuliskan pengetahuan apa yang dipelajarinya di rumah setiap hari. Tidak harus pelajaran sekolah. Bisa membaca buku cerita, belajar berhitung, mengenal tanaman, berdiskusi dengan orang tua, atau mencari tahu sesuatu yang baru.

Setiap pagi jurnal itu dibawa ke sekolah dan diperiksa oleh wali kelas. Jika ada murid yang tidak mengisi jurnal atau tidak membawanya ke sekolah, guru tidak langsung memarahi anak. Orang tua justru dihubungi melalui telepon. Pesannya sederhana, mari kita mendampingi anak belajar bersama.

Cara ini membuat rumah dan sekolah benar-benar terhubung. Orang tua tidak lagi hanya bertanya, “Hari ini dapat PR apa?”, tetapi ikut memastikan bahwa proses belajar memang terjadi di rumah. Menurut saya, di sinilah letak kekuatan utama Jam Belajar Masyarakat.

Program ini akan berjalan efektif apabila sekolah menjadi eksekutor utama. Sebab hanya sekolah yang memiliki perangkat lengkap untuk melaksanakan, memantau, mengevaluasi, sekaligus menindaklanjuti pelaksanaannya.

Dinas pendidikan, camat, lurah, RT, RW, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat tetap memiliki peran penting sebagai penggerak dan pendukung ekosistem belajar. Namun pelaksanaan sehari-hari tetap berada di tangan sekolah yang berinteraksi langsung dengan peserta didik.

Kalau sekolah menjadi pelaksana utama, gubernur pun sebenarnya akan jauh lebih mudah mengendalikan program ini. Instrumen pengawasannya sudah ada, yaitu jurnal harian yang diisi murid, refleksi orang tua, serta laporan guru. Dari sana akan terlihat sekolah mana yang konsisten, keluarga mana yang aktif mendampingi anak, dan kebiasaan apa yang mulai tumbuh.

Penutup

Kini, ketika libur sekolah tiba, saya justru melihatnya sebagai ruang refleksi. Ruang bagi murid untuk tetap belajar dengan cara yang menyenangkan. Ruang bagi orang tua untuk kembali menemukan perannya sebagai pendidik pertama dan utama. Ruang bagi guru untuk menyiapkan strategi pembelajaran yang lebih baik ketika tahun ajaran baru dimulai.