Namun, memuliakan karya anak di sekolah hanyalah satu sisi dari ikhtiar pendidikan. Sebab sebuah karya tidak lahir secara tiba-tiba tetapi bertumbuh dari kebiasaan membaca, rasa ingin tahu, kedisiplinan, dan lingkungan yang memberi ruang kepada anak untuk belajar. Semua itu tidak hanya dibangun di sekolah, tetapi pertama-tama di rumah.

Di sinilah gagasan Jam Belajar Masyarakat menemukan relevansinya. Jika OSOP berbicara tentang memuliakan hasil belajar anak, maka Jam Belajar Masyarakat berbicara tentang memuliakan proses belajar anak. Keduanya sesungguhnya saling melengkapi.

Lahirnya Peraturan Gubernur NTT Nomor 24 tentang Jam Belajar Masyarakat, menurut saya, bukan sekadar sebuah regulasi administratif. Pergub ini lahir dari sebuah permenungan yang cukup mendalam bahwa pendidikan tidak boleh terus-menerus dibebankan secara tidak proporsional kepada guru dan sekolah.

Selama ini, ketika hasil belajar anak menurun, sekolah yang pertama kali disalahkan. Ketika karakter anak bermasalah, guru menjadi pihak yang paling sering dimintai pertanggungjawaban. Padahal anak hanya berada di sekolah beberapa jam setiap hari. Selebihnya, mereka tumbuh bersama keluarga dan masyarakat.

Melki tampaknya ingin mengembalikan keseimbangan itu. Belajar, disiplin, membaca, menghargai waktu, bekerja sama, hingga membangun karakter, semuanya seharusnya mulai dibiasakan dari rumah. Sekolah melanjutkan, bukan memulai dari nol.

Praktik Baik Penerapan Jam Belajar di Rumah

Sejak wacana Jam Belajar Masyarakat mulai digaungkan Gubernur NTT, SDK Santo Yoseph 2 Naikoten tidak menunggu lama. Pada Januari lalu sekolah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh orang tua agar mulai menerapkannya di rumah.

Pelaksanaannya dibuat sederhana, tetapi terukur. Setiap murid diwajibkan mengisi Jurnal Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang mengacu pada Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 14 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di Satuan Pendidikan. Salah satu kebiasaan yang mendapat perhatian khusus adalah gemar belajar.