Melki mencontohkan tenaga kerja terampil seperti perawat yang dapat bekerja di Jepang dengan penghasilan Rp25–30 juta per bulan, sebagai bukti pentingnya peningkatan kualitas dan kesiapan tenaga kerja.

Gubernur juga mengakui hubungan industrial di NTT masih kerap diwarnai konflik, terutama terkait upah dan kesejahteraan. Karena itu, diperlukan perbaikan sistem secara menyeluruh, termasuk penguatan pengawasan.

Pemerintah juga terus memperluas perlindungan tenaga kerja melalui program jaminan sosial. “Tahun lalu kita lindungi 100 ribu pekerja, tahun ini kita siapkan lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, Petrosa Christina, mengatakan dialog ini merupakan bagian dari peringatan Hari Buruh Internasional 2026 di NTT.

Kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai unsur, termasuk pemerintah, TNI/Polri, BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, organisasi pengusaha, serikat pekerja, akademisi, mahasiswa, hingga organisasi masyarakat.

Dialog tersebut diharapkan menghasilkan langkah konkret dalam memperbaiki ekosistem ketenagakerjaan di NTT, khususnya dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat perlindungan bagi pekerja. (ocp/ab)