“NTT menghadapi bonus demografi dengan proporsi usia produktif yang besar, sekaligus peningkatan jumlah lansia. Ini harus diantisipasi dengan kebijakan yang tepat,” ujarnya secara virtual.
Ia menambahkan, seluruh daerah saat ini telah menyusun peta jalan pembangunan kependudukan sebagai dasar intervensi kebijakan yang lebih terarah.
“Kalau situasi kependudukan dibaca dengan baik dan intervensinya tepat, maka kita bisa mencapai ketahanan demografi,” katanya.
Kepala Perwakilan BKKBN NTT Faisal Fahmi melaporkan sejumlah capaian program tahun 2025, di antaranya pendampingan 41.941 keluarga berisiko stunting atau 146 persen dari target.
Ia juga menyebut angka kelahiran total (TFR) NTT berada di angka 2,8 anak per perempuan, dengan tingkat partisipasi KB aktif sekitar 40 persen.
“Program Bangga Kencana menjadi instrumen penting dalam membangun keluarga berkualitas sebagai fondasi SDM unggul,” ujarnya.
Sebagai bagian dari Rakorda, dilakukan penandatanganan komitmen kinerja program kependudukan dan pembangunan keluarga tahun 2026 antara BKKBN Provinsi NTT dan perangkat daerah KB di 22 kabupaten/kota, dengan perwakilan Kota Kupang, Kabupaten Alor, dan Kabupaten Flores Timur.





Tinggalkan Balasan