Gubernur juga memberi perhatian serius pada keberlanjutan program keluarga berencana (KB), terutama di tengah kecenderungan menurunnya penggunaan alat kontrasepsi.
“Kalau tidak dikendalikan, kelahiran bisa menjadi beban baru bagi keluarga yang belum siap,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kesiapan menyeluruh sebelum membangun keluarga, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun mental.
Dalam konteks percepatan penanganan stunting, Melki mendorong pendekatan berbasis siklus hidup yang dimulai sejak remaja, khususnya remaja putri melalui deteksi dini dan edukasi. Tahap berikutnya adalah pra-nikah untuk memastikan kesiapan pasangan, dilanjutkan intervensi pada ibu hamil dan balita, hingga penanganan medis bagi anak stunting.
“Penanganan harus dari hulu ke hilir. Jangan tunggu masalah muncul baru kita bergerak,” katanya.
Di lapangan, Gubernur menemukan berbagai persoalan yang menghambat efektivitas program, termasuk penyalahgunaan bantuan pangan bergizi.
“Kita kasih makanan untuk ibu hamil dan anak, tapi yang makan justru orang lain. Ini realita yang harus kita benahi bersama,” ujarnya.





Tinggalkan Balasan