Ia juga menyinggung perilaku merokok dan konsumsi minuman keras yang berdampak pada kualitas pengasuhan anak.
“Stunting bukan hanya soal gizi, tapi juga perilaku hidup,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti ketidaktepatan sasaran bantuan sosial akibat data yang tidak valid.
“Ada yang secara ekonomi mampu tapi masih menerima bantuan. Ini harus kita tertibkan,” katanya.
Pemerintah, lanjutnya, akan melakukan pembersihan data dan memperbaiki sistem penyaluran bantuan agar tepat sasaran. Melki juga menegaskan Rakorda tidak boleh berhenti pada tataran koordinasi dan dokumen perencanaan.
“Yang kita butuh sekarang bukan banyak dokumen, tapi aksi nyata di lapangan. Ini bukan sekadar rapat. Ini tentang bagaimana kita memastikan masa depan anak-anak NTT lebih baik,” tambahnya.
Rakorda ini mengangkat tema transformasi Kemendukbangga/BKKBN dalam mendukung program prioritas Presiden menuju Indonesia Emas 2045, dengan fokus pada pembangunan keluarga dan pengelolaan kependudukan.
Mewakili Kepala BKKBN, Direktur Analisa Dampak Kependudukan BKKBN Nyigit Wudi Amini mengatakan, tantangan kependudukan di NTT tidak hanya soal jumlah penduduk, tetapi juga kualitas dan ketahanan keluarga.
“NTT menghadapi bonus demografi dengan proporsi usia produktif yang besar, sekaligus peningkatan jumlah lansia. Ini harus diantisipasi dengan kebijakan yang tepat,” ujarnya secara virtual.
Ia menambahkan, seluruh daerah saat ini telah menyusun peta jalan pembangunan kependudukan sebagai dasar intervensi kebijakan yang lebih terarah.
“Kalau situasi kependudukan dibaca dengan baik dan intervensinya tepat, maka kita bisa mencapai ketahanan demografi,” katanya.
Kepala Perwakilan BKKBN NTT Faisal Fahmi melaporkan sejumlah capaian program tahun 2025, di antaranya pendampingan 41.941 keluarga berisiko stunting atau 146 persen dari target.
Ia juga menyebut angka kelahiran total (TFR) NTT berada di angka 2,8 anak per perempuan, dengan tingkat partisipasi KB aktif sekitar 40 persen.
“Program Bangga Kencana menjadi instrumen penting dalam membangun keluarga berkualitas sebagai fondasi SDM unggul,” ujarnya.







Tinggalkan Balasan