Kupang, KN – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan lemahnya fungsi keluarga menjadi akar persoalan stunting, kemiskinan, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia di daerah itu. Ia mengingatkan, berbagai program pemerintah berisiko gagal jika tidak dimulai dari pembenahan keluarga.
Penegasan itu disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Bangga Kencana Provinsi NTT Tahun 2026 di Aula Fernandez Kantor Gubernur NTT, Kamis (16/4/2026).
“Kalau keluarga tidak kita benahi, kita hanya berputar di masalah yang sama. Stunting, kemiskinan, itu semua bermula dari keluarga,” tegas Melki.
Ia menyoroti perubahan sosial yang dinilai telah menggerus peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak.
“Sekarang banyak keluarga kehilangan ruang komunikasi. Peran orang tua digantikan oleh teknologi. Ini yang harus kita kembalikan,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi melahirkan generasi yang rapuh secara karakter dan mudah terpengaruh.
Gubernur juga memberi perhatian serius pada keberlanjutan program keluarga berencana (KB), terutama di tengah kecenderungan menurunnya penggunaan alat kontrasepsi.
“Kalau tidak dikendalikan, kelahiran bisa menjadi beban baru bagi keluarga yang belum siap,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kesiapan menyeluruh sebelum membangun keluarga, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun mental.
Dalam konteks percepatan penanganan stunting, Melki mendorong pendekatan berbasis siklus hidup yang dimulai sejak remaja, khususnya remaja putri melalui deteksi dini dan edukasi. Tahap berikutnya adalah pra-nikah untuk memastikan kesiapan pasangan, dilanjutkan intervensi pada ibu hamil dan balita, hingga penanganan medis bagi anak stunting.
“Penanganan harus dari hulu ke hilir. Jangan tunggu masalah muncul baru kita bergerak,” katanya.
Di lapangan, Gubernur menemukan berbagai persoalan yang menghambat efektivitas program, termasuk penyalahgunaan bantuan pangan bergizi.
“Kita kasih makanan untuk ibu hamil dan anak, tapi yang makan justru orang lain. Ini realita yang harus kita benahi bersama,” ujarnya.







Tinggalkan Balasan