Dari Amerika Serikat ke Rote Ndao,  Alumni LPDP Aplonia Mozes Memilih Pulang Kampung Demi Rakyat

Alumni LPDP, Aplonia Adriana Mozes saat mengajar dalam kegiatan Rote Science Club Perdana pada Januari 2026 yang membahas Energi terbarukan di SD Tefila Rote Ndao. (Foto: DOKUMEN PRIBADI)

BA’A, KN – Di tengah peluang karier terbuka lebar di luar negeri, alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Aplonia Adriana Mozes, memilih pulang dan mengabdi di kampung halamannya, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Perempuan yang menamatkan studi Master of Social Work di Arizona State University, Amerika Serikat, pada 12 Mei 2025 itu menegaskan, pendidikan yang dibiayai negara harus kembali dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
“Ketika uang sekolah berasal dari rakyat, mereka perlu ‘mengecap’ hasil studi kita,” tegas Aplonia kepada wartawan, Jumat, (27/2/2026).

Keputusan pulang bukan sekadar kewajiban kontrak sebagai awardee LPDP. Sejak awal, Aplonia memang telah berniat kembali ke Indonesia, khususnya Rote Ndao.

Selain meninggalkan keluarga di tanah air, ia mengaku memiliki panggilan hati untuk membantu masyarakat yang membutuhkan tenaga dan pikirannya.

“Saya ingin dekat dengan orang-orang yang saya sayangi di Rote Ndao sekaligus sebagai wujud terima kasih dan cinta saya bagi Indonesia,” ujarnya.

Pengalaman studi di Amerika Serikat memberinya perspektif baru tentang pembangunan. Salah satu pelajaran paling berkesan yang ia dapatkan bukan semata soal sistem yang canggih, melainkan budaya menghargai hal-hal kecil.

“Saya melihat budaya luar negeri yang sangat maju dan modalnya sederhana yakni saling menghargai hal-hal kecil,” katanya.

Nilai integritas dan keberanian mengadvokasi kebenaran menjadi fondasi cara pandangnya dalam membangun daerah. Ia ingin menghadirkan kualitas kerja yang tinggi sebagai bentuk penghormatan pada diri sendiri dan orang lain.

“Dengan menghormati diri sendiri melalui kualitas kerja yang tinggi, kita juga bisa menghormati orang lain dengan kualitas yang sama,” jelasnya.

Jejaring alumni LPDP juga menjadi ruang saling menguatkan. Ia dan sesama awardee aktif berdiskusi mengenai persoalan di daerah masing-masing serta berbagi informasi untuk mencari solusi bersama.

Namun, kepulangan ke tanah air tak sepenuhnya berjalan mulus. Tantangan terbesar yang ia hadapi justru ketika menyadari praktik korupsi yang masih kental dalam sistem di Indonesia. “Ini menghancurkan hati saya,” ungkapnya jujur.

Sebagai daerah kepulauan, Rote Ndao juga menghadapi persoalan klasik. Keterlambatan distribusi BBM, misalnya, kerap menghambat aktivitas warga. Ketimpangan kebijakan pusat pun sangat terasa di wilayah paling selatan Indonesia itu.

BACA JUGA:  Pj Wali Kota Koordinasi Pengembalian Sejumlah Pejabat Lingkup Pemkot Kupang

Meski demikian, ia tak memilih menyerah. Di sektor pendidikan yang kini ia tekuni, Aplonia membentuk sejumlah komunitas sebagai ruang belajar alternatif bagi anak-anak dan generasi muda.

Ia mendirikan Rote Science Club dan Rote Chess Club, serta mengelola Komunitas Rote Bergerak yang kini berkolaborasi dengan pemerintah daerah. Ia juga menjadi mentor Komunitas English Assistance Rote yang membantu banyak warga NTT belajar Bahasa Inggris melalui grup WhatsApp.

Tak hanya itu, ia terlibat dalam Relawan Peduli Sampah Rote yang tengah menyiapkan penerapan program Ecolitera di Rote Ndao.
“Komunitas-komunitas ini bersinergi dengan orang-orang Rote yang hebat. Kami juga terlibat dalam tim pendataan PLTS yang didukung Bapak Bupati Rote Ndao,” bebernya.

Membangun dari Pendidikan

Bagi Aplonia, kunci kemajuan Rote Ndao terletak pada pendidikan. Ia menilai anak-anak di daerah kepulauan itu membutuhkan dukungan yang sangat tinggi untuk bisa terus melanjutkan sekolah.

“Anak-anak harus mendapat dukungan yang sangat tinggi untuk tetap melanjutkan pendidikan,” tegasnya.

Proses membawa gagasan baru tentu tidak selalu mudah. Ia mengakui adanya resistensi sosial ketika mencoba perlahan-lahan menyamakan pandangan masyarakat tentang pentingnya membangun daerah. Karena itu, ia memanfaatkan setiap ruang komunikasi terbuka dengan pemerintah daerah untuk membangun kolaborasi.

Di mata Aplonia, pengabdian bukanlah slogan. Pengabdian adalah keberanian menjawab suara hati secara jujur.
“Makna pengabdian bagi saya adalah menjawab nurani secara jujur,” ucapnya.

Sebagai alumni LPDP dari daerah afirmasi, Aplonia menyadari tanggung jawab moral yang melekat pada dirinya dan para penerima beasiswa negara lainnya. Ia berharap semakin banyak anak muda NTT berani bermimpi menembus batas.

“Sekolah dan belajarlah. Jika kita berpendidikan, kita akan membantu orang dengan kualitas yang lebih baik,” pesannya.

Bagi generasi muda Rote dan NTT yang ingin melanjutkan studi melalui LPDP, ia berpesan agar tidak mudah menyerah.

“Jangan patah semangat. Selama badan masih sehat dan ada kesempatan itu, tangkap!” pungkasnya.

Dari negeri Paman Sam menuju negeri terselatan Indonesia, Aplonia Adriana Mozes membuktikan bahwa mimpi yang terbang jauh ke negeri orang bisa kembali berlabuh di kampung halaman. (*/ab)

IKUTI BERITA TERBARU KORANNTT.COM di GOOGLE NEWS