“UMKM kita bisa produksi, tetapi tidak punya pasar. Karena itu kita buka pasarnya lebih dulu,” katanya.
NTT Mart dirancang untuk: menjadi pusat pemasaran produk One Village One Product (OVOP), menyerap hasil produksi UMKM di desa dan kelurahan, menampilkan etalase kuliner, kerajinan, tenun, kriya, dan fashion, serta dikembangkan menjadi platform digital ala Shopee atau Tokopedia versi NTT.

Melki menegaskan pentingnya menjaga konsistensi produksi. “Barang harus tersedia setiap hari dan kualitas tidak boleh turun,” ujarnya.

Gubernur juga mendorong masyarakat untuk meninggalkan pola menjual bahan mentah dan beralih ke produk olahan bernilai tinggi. Ia mencontohkan jantung pisang yang jika diolah bisa meningkat nilainya hingga 50 kali lipat.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya literasi pengelolaan uang. “Banyak keluarga bukan miskin karena tidak punya uang, tetapi karena salah mengelola uang. Tokoh agama dan pendamping desa harus terlibat mengedukasi,” tambahnya.

Untuk memastikan keberlanjutan pasar, Melki mewajibkan 11.000 ASN di TTS berbelanja minimal Rp100.000 per bulan di NTT Mart.