Menurut Gubernur, produk lokal harus menjadi pilihan utama, sedangkan produk luar hanya pelengkap. Namun ia mengakui bahwa tantangan terbesar UMKM di NTT adalah kontinuitas produksi.
“Banyak UMKM mampu memproduksi, tapi tidak konsisten bulanan. Inilah yang membuat pasar kita tidak berkembang,” tegasnya.
Gubernur mencontohkan potensi olahan jantung pisang yang dapat menghasilkan nilai tambah tinggi jika diolah dan dikemas dengan baik. Ia menekankan perlunya mengubah pola ekonomi lama “tanam–panen–jual mentahan” menjadi olah–kemas–jual, agar nilai ekonomi kembali kepada masyarakat.
Sebagai langkah memperkuat perputaran ekonomi lokal, Gubernur Melki mengumumkan kewajiban belanja produk lokal bagi ASN menjelang Natal dan Tahun Baru.
“ASN diwajibkan membeli minimal Rp100 ribu produk dari NTT Mart. Dengan 4.000–5.000 ASN di Belu, ada potensi perputaran uang sekitar Rp5 miliar dalam satu periode belanja,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kebijakan ini lazim diterapkan di negara maju untuk menggerakkan ekonomi lokal dan tidak membebani ASN karena kebutuhan konsumsi tetap ada setiap akhir tahun.



Tinggalkan Balasan