Ketika ditegur, VS bukannya meminta maaf, tapi menunjukan sikap mual kepada gurunya. VS juga melontarkan ancaman, sambil menyebut bahwa ibunya akan melaporkan guru tersebut ke dinas.

Perbuatan VS tersebut, sontak memantik emosi dari gurunya. “Saya sobek kertas ujiannya dan memberikan dorongan ringan di pipi untuk menegur. Tapi dia langsung berdiri dan menendang saya. Saya nyaris melawan, tapi dilerai oleh teman-teman sekelasnya,” tutur Rini.

Rini pun segera melaporkan kejadian ini kepada pimpinan sekolah. Dalam pertemuan awal, pihak sekolah sempat menyepakati bahwa VS akan dikeluarkan. Namun keputusan akhir hanya berupa skorsing selama satu minggu.

Setelah insiden tersebut, Rini mengaku menghadapi tekanan psikologis dari lingkungan sekolah. Ia merasa tidak lagi dihormati oleh siswa-siswa lain di kelas, yang kini mulai bersikap acuh dan tidak mengikuti pelajaran dengan serius.

“Bukan saya yang takut, tapi kepala sekolah yang tidak berani mengambil tindakan tegas. Ini bukan soal pribadi, tapi soal penegakan aturan,” tegasnya.