Tujuannya adalah mendorong semangat kemandirian dan inovasi dalam pengelolaan pendidikan, tanpa harus terlalu bergantung pada iuran peserta didik.

Salah satu yang tampil berbagi adalah Rm. Dicky Mau dari SMKS St. Pius X Insana – Bitauni. Ia menjelaskan bahwa di sekolahnya, dari setiap program keahlian diterapkan skema pembagian hasil : 60% untuk siswa, 20% untuk sekolah, dan 20% lainnya dikembalikan untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Sebanyak 75% siswa tidak lagi membayar uang sekolah karena sekolah mengedepankan konsep pemberdayaan melalui produksi. Hasil bersih dari kegiatan usaha di sekolah digunakan untuk memberdayakan siswa agar mandiri secara finansial,” ucapnya.

Hal serupa diterapkan di SMK Negeri 2 Loli, Kabupaten Sumba Barat. Sekolah ini memiliki jurusan unggulan : Agribisnis Ternak Unggas dan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura. Hasil produksi dibagi dengan proporsi : 45% untuk siswa, 35% untuk pengelola, 10% untuk tambahan APBD, dan 10% untuk modal usaha. Dengan skema ini, para siswa tidak lagi dikenakan biaya sekolah.